Saturday, December 31, 2011

Target 2012

Orang sedang ribut membuat resolusi di 2012, jadi saya nggak mau kalah ah. Tapi karena saya nggak secanggih orang-orang, jadi saya namai saja Target 2012 hihihihi

Jadi saya di tahun 2012 ini kepingin.... hmmm apa yah?! Hehehehe saya ini bukan tipe yang membuat rencana, apalagi yang sampai detil ke pernik-perniknya. Saya orang yang go with the flow: hanyut di sungai gara-gara ga bisa berenang.... Eh, bukan ding, maksud saya, tipe yang santai mengikuti keadaan. Walau emang bener saya nggak bisa berenang dan pasti hanyut kalau diceburin ke sungai....

Nggak kok, walau saya tipe yang easy going (gampang didorong kiri kanan soalnya kurus). Saya tetap punya rancangan masa depan. Jadi apakah itu? Mari kita lihat...

Di tahun 2012 ini saya ingin memantabkan posisi saya di pekerjaan saya, kalau bisa mendapat kenaikan gaji (amin ya Allah). Lalu mempersiapkan masa depan dengan investasi (kemakan rayuan mas-mas di bank).

Pacar? Pacar?
Engggg... nggak dulu deh, walau nggak nolak juga kalau dikasih sama Yang Di Atas..... (ngarep.com).

Semoga bisa makin berbakti ke Allah dan orang tua....

Lalu, pengen gadget baru! Muehehehehe (tetep). Saya ingin open headphone fullsize untuk dipakai di rumah. Sekarang ini sedang mencari informasi beberapa tipe (picky at the best: gampang diusilin karena polos, jujur, baik hati dan tidak sombong.... eit, ga boleh protes! Orang ini blog, blog saya weeek).
Lalu Sandisk Sansa Fuze+ atau Samsung YP-M1 untuk menggantikan Sandisk Sansa Clip saya yang sudah butut. Lalu ebook reader: saya ngiler saat membaca iRiver Cover Story yang di jual di sebuah toko buku....

Tablet? Tablet?
Nggak deh, nggak minat tablet, nggak butuh....
Saya malah kepengen Sony Ericsson (Sebentar lagi jadi Sony, tanpa Ericsson) Xpria Pro.

Hiks banyak ya kepengennya saya....

Demikian target saya untuk tahun 2012, siapa tahu bisa dicontek untuk target anda di tahun 2012 hihihihi...

Bismillah...

Monday, December 12, 2011

Review: The Road


The boy turned in the blankets. Then he opened his eyes. Hi, Papa, he said.
I’m right here.
I know.
Biasanya novel yang saya baca adalah novel epic/high fantasy, tapi kali ini saya iseng mencoba novel post-apocalyptic. Sesuai namanya, genre ini berkutat di dunia setelah terjadinya bencana besar, yang mengubah total kehidupan manusia. Judul novelnya adalah The Road, yang bila diartikan ke bahasa Indonesia kira-kira menjadi "Jalan".

Novel ini mengikuti perjalanan seorang pria dan anaknya menuju daerah selatan amerika untuk mencari iklim yang lebih hangat, menghindari musim dingin. Dalam perjalanan, mereka harus menghadapi berbagai macam halangan: salju tebal, persediaan makanan yang menipis, dingin, dan kebrutalan sisa-sisa manusia yang rela melakukan segalanya demi bertahan hidup (termasuk kanibalisme).
You can read me a story, the boy said. Cant you, Papa? Yes, he said. I can.
Dunia tempat novel ini berlangsung adalah dunia yang gelap, dingin, hitam, sepi. Dunia ini setelah terjadinya suatu bencana yang tidak dijelaskan, dengan sisa berupa api yang masih sering membakar hutan dan berbagai benda di permukaan bumi. Langit dan udara dipenuhi asap dan abu, matahari tertutup, bahkan hujan dan salju pun tercampur abu. Rentang waktu di novel ini tidak terlalu jelas, mungkin beberapa bulan, tidak ada penanda waktu selain siang-malam.
The boy took the can. It’s bubbly, he said.
Go ahead.
He looked at his father and then tilted the can and drank. He sat there thinking about it. It’s really good, he said.
Yes. It is.
You have some, Papa.
I want you to drink it.
You have some.
He took the can and sipped it and handed it back. You drink it, he said. Let’s just sit here.
It’s because I wont ever get to drink another one, isnt it?
Ever’s a long time.
Okay, the boy said.
Jujur, awal-awal novel saya sempat malas, seperti saat membaca novel Mistborn buku pertama, sebab dunia yang bleak seperti ini membosankan, tidak ada warna-warna cemerlang yang saya kejar dari genre epic/high fantasy. Tapi setelah meneruskan membaca, saya menjumpai sesuatu yang indah di dunia yang kelam, bleak dan dingin ini: cinta sang ayah ke putranya, kepolosan (innocence) dari sang anak, dan bagaimana mereka berjuang memegang teguh prinsip kemanusiaan. Luar biasa.

Cerita diambil dengan sudut orang ketiga, dan dari semua tokoh, hanya satu yang diberi nama. Bahkan tokoh utama disebut sebagai The Man dan The Boy, tanpa ada penjelasan nama, latar belakang, kota asal, usia dll. Bahkan deskripsi fisik tokoh pun sangat minim, dan hanya di beberapa bagian saja.
We’re going to be okay, arent we Papa?
Yes. We are.
And nothing bad is going to happen to us.
That’s right.
Because we’re carrying the fire.
Yes. Because we’re carrying the fire.
Tidak ada intrik-intrik yang rumit di novel ini, cerita berjalan lurus dan sederhana. Bahkan klimaks bukan adegan penuh aksi, dan memang di novel ini aksi sangatlah minim, namun cerita yang sederhana ini justru mampu membangun emosi yang sangat kuat. Keindahan sederhana yang disuguhkan novel ini benar-benar membekas.

Dialog sangat minim, namun dialog minim ini membuat kesan yang dalam. Dan harus saya akui, salah satu keindahan dari novel ini terletak di dialognya yang sederhana, namun sangat kuat.
Just wait here, he said.
I’m going with you.
I thought you were scared.
I am scared.
Okay. Just stay close behind me.
Ending novel ini sederhana, dan bisa ditebak, namun pembangunan ending, penggambaran suasana dan dialog sederhana yang kuat, membuat ending novel ini tidak berkesan begitu saja. Perpindahan fokus dari sang ayah ke si anak di bagian ending, justru membuat ending yang indah, sedih dan bahagian. Benar-benar menggugah emosi.
I dont know what to do.
Shh. I’m right here. I wont leave you.
You promise.
Yes. I promise. I was going to run. To try and lead them away. But I cant leave you.
Papa?
Shh. Stay down.
I’m so scared.
Shh.
Jangan frustasi dulu dengan awal-awal novel yang sangat kelam dan bleak, karena jika anda mampu bersabar membaca novel The Road ini, anda akan menemui berbagai keindahan yang tidak ada di novel lain. Sederhana, namun sangat membekas.
Recommended!!!

Monday, December 05, 2011

Review: The inheritance Trilogy (N. K. Jemisin)


Catatan: bukan novel vampir...
Saya pertama bertemu buku ini dari rekomendasi satu situs review buku fantasy. Namun awalnya saya kurang tertarik karena isinya berisi mengenai dewa-dewa dan manusia, pengalaman saya membaca buku dengan tokoh dewa selalu kurang sreg: dewa dengan sifat seperti manusia. Maklum, ajaran agama saya hanya mengenal satu Tuhan, yang tidak bisa disamakan dengan manusia. Tapi karena penasaran, saya baca juga buku ini hehehehe....
Once upon a time, there were nothing but a great, churning mass of chaos, power, possibilities, unknown , The Maelstorm. Then some time, Maelstorm spit out a Being, who was wild, churning, eternal, ever changing. But there was nothing: no people, no places, no spaces, no darkness, no dimension, no EXISTENCE. And so He promptly set out to create something, by going mad and tearing Himself. And so EXISTENCE created...

Tiga buku ini memiliki tiga tokoh yang berbeda di tiap buku. Namun setiap buku merupakan satu kesatuan cerita yang berkelanjutan. Saya sendiri lebih suka menyebut sebagai satu kisah yang diceritakan oleh tiga tokoh. Tidak usah khawatir, karena tokoh-tokoh yang terlibat masih saling berkaitan dengan buku sebelumnya. Namun seperti novel Epic Fantasy lainnya, novel ini memiliki kekurangan yang berupa TOKOH YANG BANYAK.
After eons of tearing at Himself, The Being found Himself surrounded by mass of formless immensity of separate substance. It was, however, the earliest form of the universe and the gods’ realm that envelops it.

Gaya penceritaan novel ini unik, berbeda dengan novel-novel fantasi epik yang pernah saya baca. Cerita dituturkan dengan gaya jurnal harian, atau diary, dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Menebak siapa yang bercerita membuat saya tertarik untuk membaca lebih jauh. Flash back, kisah-kisah, cerita-cerita dan berbagai informasi lainnya diselipkan dengan menarik di berbagai tempat, terkadang diantara dialog internal tokoh utama di suatu kejadian, namun penempatan yang pas membuat sisipan informasi ini bisa diterima dan melengkapi keutuhan cerita.

The Maelstorm, either by change or by It's own awareness, spat out another Being, as mighty as the First , but complete opposite: while the First are embodiment of chaos, change and darkness; this one is embodiment of order, stability and light. And so the Second attacked the First, because the polar opposite of their nature...

Jalur cerita mengalir sederhana, intrik tidak sedalam dan njelimet seperti The Wheel of Time, bahkan masih lebih sederhana dari Mistborn. Plot terjalin rapi, walau mungkin sederhana, namun penulis berhasil memberikan kejutan-kejutan di tikungan-tikungan cerita. Alur cerita diatur dengan pas, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Walau memang span waktu yang digunakan di tiap buku agak berbeda, dimana hanya beberapa minggu di buku pertama, menjadi beberapa bulan di buku kedua dan menjadi beberapa tahun di buku ke tiga.
So they fought, and fought, and fought times a few million jillion nillion, until suddenly one or the other of them got tired of the whole thing and proposed a truce. And then they became lovers. Somewhere between all this — the fighting or the lovemaking, not so very different for those two — they had a powerful effect on the shapeless mass of substance that the first had given birth to. It gained more function, more structure. And all was well for another Really Long Time.

Penokohan terbangun bagus, karakterisasi jelas dan cukup dalam. Tiap tokoh memiliki kharakter yang khas, dan dapat dengan mudah dibayangkan. Di sini, saya menjumpai penokohan lebih lengkap, lebih manusiawi dibandingkan dengan penokohan Brandon Sanderson, yang lebih menjurus ke hitam-putih. Penokohan N. K. Jemisin terasa lebih lengkap, lebih hidup.

Then along came the Third, a she-being, who should have settled things because usually three of anything is better, more stable, than two. For a while this was the case. In fact, EXISTENCE became the universe, and the Beings soon became a family, because it was the Third’s nature to give meaning to anything She touched. If the First is the dark, the Second is the light, then the Third is the between, the BALANCE, neither dark nor light.
Setiap buku ditutup dengann rapih, bagus, memberikan rasa puas setelah membacanya. Tidak banyak novel yang memberikan penutup yang memuaskan, namun masih membuat orang ingin membaca kelanjutan dari buku tersebut. Kebanyakan dari seri novel adalah memberikan suatu cliff hanger, atau suatu misteri yang belum terpecahkan, atau penutup kecil dari suatu plot besar, untuk menarik pembaca ke buku berikutnya.

And so they became a family: the First, who they call Nahadoth, the Second, who they call bright Itempas, and the Third, who they call Enefa, and many child born from them: the godlings and the humans. And so the era of Gods and Humans begin. Until that day, when love, and loneliness, and betrayal destroy everything...

Yang saya temui kurang sreg adalah banyaknya dewa-dewa di buku ini, dan bagaimana setiap dewa menyerupai sifat manusia. Saya mendapat kesan dewa-dewa adalah manusia dengan keabadian dan kekuatan super. Bagaimanapun, penulis novel ini adalah manusia, jadi pantas saja jika penggambaran di novel ini masih dalam batas manusia....
And so the new era begins... An era of slavery, pain, and loneliness....

Secara keseluruhan, saya suka buku ini, walaupun beberapa hal yang terasa kurang sreg. Saya cukup menikmati membaca buku ini, gaya penceritaannya yang mengena, manis, dengan ending yang tidak dapat diduga, membuat satu paket bacaan yang menyenangkan. Kalau anda pencinta novel fantasi, dan tidak ada halangan untuk membaca kisah dengan dewa-dewa rekaan di dalamnya, saya sangan merekomendasikan seri novel ini.
Recommended!!!

Monday, November 28, 2011

Review: The Way of Kings

Cover
 It was said how The Voidbringers attack forced humankind out of the Tranquline Halls into Roshar. Even then, humankind still struggle in a war against them. And after on and off and on and off battle, humankind lost their strongest Champion; The Heralds, and the weapon they wield; The Dawnshard. And now, after long, long period of peace, humankind faced again with their arch enemy. No one but a few understand the coming of the biggest war humankind will ever faced, The Last Desolation....
Buku novel yang berjudul The Way of Kings ini sebenarnya sudah keluar agak lama, 2010 kemarin. Buku ini buku pertama dari seri novel Stormlight Archieve dari Brandon Sanderson, dan direncanakan akan terdiri dari 10 buku. Cukup fantastis, dan ambisius. Namun masih dalam ukuran normal untuk novel Epic Fantasy.

Seperti karya-karya Brandon Sanderson lainnya, novel ini kaya akan detil, dengan gaya penceritaan yang santai, detil dipaparkan dengan cukup, tidak berlebihan. Dunia Roshar yang berbeda digambarkan dengan indah, unik, dengan flora, fauna dan penduduknya masing-masing. Setiap ras dibuat dengan gayanya masing-masing, dengan karakter dan ada-istiadat yang berbeda, membuat setiap karakter dan ras menjadi hidup. Walau harus saya akui, terkadang tokoh-tokoh di novel ini terkesan terlalu sederhana, terkesan hitam dan putih.

Di beberapa bagian ada sisipan-sisipan berupa ilustrasi peta, fauna, flora, dll dengan kualitas yang memanjakan mata. Detil dan indah. ilustrasi-ilustrasi ini sangat membantu penggambaran flora-fauna dan tempat-tempat yang digambarkan di novel ini.

Cerita dibangun dengan santai, perlahan namun pasti, dengan beberapa flashback dan penukaran sudut pandang, memberikan pemahaman yang lebih mendalam ke dalam cerita. Plot dibangun tidak terlalu cepat, intrik demi intrik dibuka satu demi satu, memberikan gambaran ke arah alur cerita. Memang sih, saya mendapat kesan cerita perang, pembunuhan dan penokohan sedikit menyerupai The Wheel of Time (yang memang tiga buku terakhir saat ini tengah dikerjakan oleh Brandon Sanderson) atau Mistborn Trilogy (terutama dibagian pembunuhan diam-diam).

Sistem magic dan supranatural dibuat dengan apik, unik, tidak menyerupai sistem yang sudah ada. Stormlight, Surgebinding, Shardblade, Shardplate, Soulcast, semuanya memberikan sumbangan ke dalam pembangunan dunia yang fantastis, namun tidak norak. Memang saya mendapatkan kesan bahwa Shard (Shardblade, Shardplate, dan mungkin Dawnshard jika ditemukan) akan menjadi deux ex machina di cerita, namun saya rasa masih bisa dimaklumi.

A surgeon who abandon his training for spear, a scholar who wish to do thievery, an assassin who wept while he kill, and a warlord who wish to end the war for good. Four people, with different wish, different history, their fate entwined in the face of the terrible danger which is The Last Desolation...

Membaca buku ini, anda harus bersiap-siap dengan informasi-informasi baru (karakter, nama, flora, fauna, tempat, latar belakang dll). Saya sendiri sempat merasa seperti akan overload dengan banyaknya informasi di buku ini. Namun masih lebih ringan jika dibandingkan dengan The Wheel of Time. Atau mungkin itu dikarenakan The Wheel of Time sudah mencapai buku ke-14. Sepertinya saya juga akan menemui overload informasi dari buku ini kalau sudah mencapai buku ke-10....

Secara keseluruhan novel ini sangat bagus, dan saya sangat merekomendasikan buku ini, terutama untuk anda pencinta novel fantasy. Siap-siap saja bersabar menunggu karena seri Stormligh Archieve ini baru dimulai...
RECOMMENDED!!! 

Monday, November 21, 2011

Impression: FiiO E10 DAC (Updated)


Kali ini saya mendapat rejeki untuk bisa memboyong pulang FiiO E10 DAC. Untuk yang belum tahu istilah DAC, gambaran kasarnya adalah soundcard external. Untuk lebih lanjutnya silakan menjelajah google, wikipedia, atau head-fi.org. :D
Saya mendapatkan FiiO E10 DAC ini sejak minggu kemarin, dan setelah digunakan seminggu ini, saya rasa suaranya tidak ada perubahannya lagi

1. Kualitas Bentukan (Build Quality)
Kualitas bentukan dari E10 ini bagus, sangat bagus jika menurut saya. Kecil, ringan, dengan selongsong dari logam. Dari tampilannya memberikan kesan elegan. Dalam paket penjualan kita mendapat kotak kaleng (seperti kotak permen) yang berisi E10, kabel USB-mini USB (input), karet-karet kecil yang berfungsi sebagai kaki, dan beberapa kertas.
Di bagian depan ada jack 3,5mm; tombol bass-boost, LED biru dan knob volume. Di bagian bawah ada switch gain, dan di bagian belakang ada mini usb input ditemani coaxial out dan line out jack.
Bagian depan.
Bagian belakang.
Bagian bawah.

2. Pemasangan
Mudah sekali, tinggal colok E10 ke slot USB di laptop/PC anda dengan kabel USB-mini USB yang disediakan. Tunggu sebentar hingga OS anda selesai memasang driver dan konfigurasi lainnya, pastikan E10 sebagai main output, dan E10 siap digunakan. Saya coba E10 dengan Laptop bersistem operasi Windows XP, Windows 7 dan Linux (Ubuntu 10.04 LTS Lucid Lynx) dan semua dapat mengenali dan mengkonfigurasi E10 dengan tepat, termasuk fitur 24 bit-nya.
Mixer di Windows 7.
Konfigurasi wasapi di Foobar2000


3. Suara
Ini dia bagian yang ditunggu. Perangkat lunak pemutar musik yang saya gunakan adalah Foobar2000 (XP dan 7) dengan wasapi untuk memastikan bit-perfect, dan deadbeef untuk linux.
Saat pertama kali mendengarkan, saya agak terkejut dengan treble yang menusuk dan metallic. Mid agak kering dengan bass yang biasa saja. Tapi sekarang setelah seminggu lebih saya gunakan, suaranya sudah berubah dan menjadi stabil.

Suara FiiO E10 ini jauh lebih bagus daripada soundcard bawaan laptop saya. Dapat didengar dengan jelas suara yang lebih smooth di semua frekuensi, bahkan dengan headphone Audio-Technica SJ33 saya yang cukup garang (walau tidak sebrutal Grado) suara yang keluar terdengar lebih smooth. Saya suka ini.

Treble yang awalnya menusuk sekarang sudah lebih sopan. Jernih, dengan detil yang bagus. Mungkin karena saya agak peka dengan treble, saya menemui treble dari E10 ini masih agak menyengat, apalagi jika rekaman yang diputar termasuk bright. Tidak separah di awal-awal, namun saya lebih suka menurunkan 1db di 5kHz dan 10kHz, dan 2db di 7kHz dan 14kHz keatas.
Update: saat ini (6 Januari 2012) treble dari E10 sudah stabil dan tidak lagi menyengat seperti dulu. Tetap relatif bright, tapi sudah tidak menyengat.

Mid dari E10 ini enak sekali untuk vokal: smooth, detil, dan netral. Jadi tidak mundur maupun maju. Low bagus, agak boomy namun masih bisa ditolerir. Soundstage biasa saja, tidak terlalu luas, namun dengan kedalaman yang lebih bagus daripada soundcard onboard saya.
Separasi jauh lebih bagus, vokal dan alat musik terpisah dengan bagus, tidak tercampur.

Dengan separasi yang bagus, saya menjumpai berbagai bagian dari lagu yang sebelumnya saya tidak tahu ada di situ, seperti backing vocal di lagu Shake It Out oleh Florence + The Machine. Awalnya saya hanya mendengar satu kesatuan backing vocal, dengan E10 saya bisa mendengar detil nada-nada backing vocal yang sedikit berbeda satu dengan lain. Contoh lain adalah di lagu Stardust dan Whatever It Takes dari Michael Buble. Stardust disajikan dengan smooth dan intimate, sedangkan di Whatever It Takes, vokal-vokal (Buble, Ron Sexsmith dan backing) saling menjalin namun masih bisa dibedakan karakternya.

Dengan bass-boost ON, sektor low bertambah beberapa db. Tidak sampai muddy, namun cukup terdengar dan terasa di telinga saya. Mid-bass E10 ini enak sekali: empuk, warm, lincah. Album Mezzanine dari grup Massive Attack terdengar nikmat sekali dengan bass-boost dinyalakan. Bass lebih mendentam, walau raungan gitar jadi terdengar agak terlalu tebal. Mengembalikan equilizer ke nol membantu mengatasi hal ini.
Bass-boost ini memberikan sentuhan warm ke keseluruhan suara, dengan sedikit mengorbankan detil. Malah ditelinga saya, mid jadi lebih basah dan tebal, jika dimatikan mid terasa lebih kering namun detil lebih muncul.

Baik vokal pria, wanita hingga anak-anak ditampilkan dengan bagus oleh E10. Vokal The High Kings yang empuk di Galway to Graceland, vokal jernih Leona Lewis di Bleeding Love, hingga vokal soprano Jackie Evacho yang matang di Lovers semua disajikan dengan bagus sekali: smooth, detil, empuk.

4. Kesimpulan
Dengan kualitas bentukan, fitur dan terutama kualitas suaranya, FiiO E10 ini sangat pantas dimiliki untuk anda yang mengharapkan peningkatan kualitas suara dari soundcard onboard anda. Dengan harga sekitar USD 80 (IDR 750.000), saya sangat merekomendasikan FiiO E10 ini.
Reccomended!!!

 --------------------------------------------------------------------------------------------------

next: review novel The Way of Kings oleh Brandon Sanderson

Wednesday, November 09, 2011

Review: The Alloy of Law

Cover
 Waxillium Ladrian, a tough law enforcer of Rough, called to back to his family seat and to take over as the High Lord of House Ladrian. Still haunted by the memory of a dead woman, he forced to take a bride, which is a task more to save his House than to find someone he love. Everything get messy when he found some mysterious robbery and kidnapping, which involve some people from his past at Rough. Can he escape from the past, and the haunting memory of him killing a woman he love, disentangle the mystery, and save himself from danger that come in front of him? Wax will find life on the big city is even more rough than living on Rough, the part of the world which is said no civilization ever touched...

Review lagi. Kali ini review dari novel Mistborn. Bukan bagian dari Mistborn Trilogy, tetapi masih memiliki kaitan dan suasana yang sama. Bedanya, kali ini novel bertempat di dunia dimana Elend, Vin, dan lain-lainnya sudah menjadi bagian dari mitos dan sejarah.

Tokoh utama novel ini agak berbeda dengan novel Mistborn dan novel-novel lain pada umumnya. Biasanya novel memiliki tokoh yang masih termasuk muda, terkadang remaja. Di novel ini, tokoh utama berumur sekitar empat puluh tahun. Seorang veteran sherrif jika di dunia kita, penegak hukum. Bila dibandingkan dengan dunia Mistborn Trilogy berada, setting novel ini adalah beberapa ratus tahun setelahnya, dan jika dibandingkan dengan dunia kita, saya menebak kira-kira abad pertengahan dimana listrik mulai menyebar, dengan sentuhan western cowboy. Saya menjumpai gaya penulisan dan penceritaan lebih segar dengan suasana yang lebih ringan bila dibandingkan dengan Mistborn Trilogy.

Detil penceritaan tetap khas Brandon Sanderson: detil, jelas, mengalir. Membaca novel ini sama sekali tidak membosankan. Aksi, intrik dan cerita dibangun dengan mengalir, membuat saya tanpa terasa sudah menghabiskan novel ini dalam waktu setengah hari. Faktor keren berupa alloymancy, ferruchemy dan hemalurgy tetap dihadirkan, bahkan dikembangkan lebih luas lagi. Ada tambahan Twinborn, orang dengan alloymancy (misting) dan ferruchemy. Faktor ini membuat cerita dan adegan perkelahian lebih kompleks, dan lebih menegangkan. Dan seru tentunya.

Brandon Sanderson berhasil membuat satu dunia baru yang lebih moderen, namun masih memiliki hubungan dengan dunia Mistborn Trilogy yang menjadi basis dunia moderen ini. Saya bisa dengan mudah membayangkan dunia novel ini sebagai versi moderen dari dunia Mistborn Trilogy. Bagus sekali, membuat saya merasa cepat akrab dengan dunia baru ini.

Masih ada beberapa istilah yang baru untuk saya, dan belum ada penjelasan di buku ini. Mungkin Brandon Sanderson berencana untuk membuat seri baru setelah buku ini. Saya yakin penjelasan istilah dan hal-hal yang ada di buku ini akan diberikan di buku selanjutnya. Untuk sementara ini akan saya simpan hal-hal yang masih belum jelas untuk buku berikutnya...

Secara keseluruhan, novel ini sangat bagus. Kalau anda suka novel dengan aksi di dalamnya, dengan sentuhan western gunslinger, dengan sentuhan humor dan sedikit roman, saya sangat merekomendasikan buku ini. Saya sendiri merasa novel ini memberikan gaya yang fresh setelah novel House of Night. Jika novel House of Night sangat magical, feminim dan emosional, maka novel ini adalah novel maskulin dengan banyak aksi.
RECOMMENDED!!! (very, very recommended indeed!)

Sebuah Pembelaan Diri (?)

Ehm, kali ini saya tidak sedang ingin menulis review. Kali ini saya ingin curhat hehehe...
Seorang teman saya sempat bertanya kepada saya, mengapa novel-novel yang saya review semuanya adalah novel berbahasa Inggris, atau novel versi bahasa Inggris. Beliau mengeluh kepada saya, bahwa kemampuan bahasa Inggris beliau agak pas-pasan untuk membaca novel berbahasa Inggris. Ada pula teman yang sembari becanda, menuduh saya kalau saya membaca novel berbahasa Inggris biar terlihat keren....

Jadi, mengapa saya membaca novel berbahasa Inggris? Pada awalnya, membaca buku (tidak hanya novel) dalam bahasa Inggris adalah untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya. Bulik saya yang seorang guru bahasa Inggris bilang kepada saya bahwa jika saya ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya, maka saya harus sering berlatih: berbicara dalam bahasa Inggris, menulis dalam bahasa Inggris, mendengarkan bahasa Inggris dan membaca bahasa Inggris.

Saya suka musik, saya suka menyanyi, saya suka membaca. Saya berpikir, kenapa tidak menggunakan ketiga kesukaan saya untuk meningkatkan kemampuan saya berbahasa Inggris?! Akhirnya saya berlatih bahasa Inggris dengan mendengarkan musik berbahasa Inggris dan membaca dalam bahasa Inggris. Menulis dalam bahasa Inggris di tiap kesempatan, jika memungkinkan. Sayangnya saya belum cukup percaya diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris....

Memangnya efektif? Kalau saya secara pribadi berani bilang efektif. Tapi mungkin cara saya cukup berhasil karena saya SUKA melakukannya. Jadi saya cukup menikmati proses belajar saya. Di sisi lain, karena saya hampir tidak pernah berbicara dalam bahasa Inggris, ya skill saya dalam speaking bisa dibilang jelek. Dan saya paling pusing jika diajak bicara grammar, makanya nilai TOEFL bagian grammar saya jeblok hehehe...

Kembali ke kenapa saya selalu me-review buku berbahasa Inggris. Awalnya saya membaca buku, komik, novel dll dalam bahasa Indonesia, seperti remaja biasanya. Lalu saya berkenalan dengan novel Harry Potter, saya masih ingat saat itu saya diberi pinjam oleh teman saya saat kelas 3 SMP, buku seri ketiga dari Harry Potter. Saat SMA, saya bertemu dengan versi asli dari novel klasik Jules Verne 'Perjalanan Menuju Pusat Bumi' (Journey To The Center of Earth), novel Jules Verne favorit saya, dan saya kaget karena ternyata novel aslinya memiliki gaya penceritaan dan suasana yang cukup berbeda dari versi Indonesianya. Dari situlah saya tergerak untuk mencari dan membaca versi asli novel-novel kesukaan saya.

Saya mulai mencari versi asli novel pertama dan novel yang sangat membekas di saya: 'Musin Dingin Yang Panjang' (The Long Winter) karya Laura Ingalls Wilder, yang kemudian saya ketahui merupakan satu dari rangkaian seri Little House. Dikarenakan kota asal saya adalah kota kecil di bawah batu, akses internet amat sulit dan mahal. Koneksi yang umum adalah dial-up yang harga perjamnya adalah enam ribu rupiah. Mahal untuk ukuran saya. Pencarian saya bisa dibilang gagal.

Saat kuliah di Jakarta, fasilitas yang saya nikmati berubah, internet yang dulunya saya kategorikan sebagai barang mahal, kini berubah menjadi barang kebutuhan. Dan dapat diakses dengan biaya yang jauh lebih murah. Saya menggila, melakukan pencarian novel berbahasa Inggris di dunia bawah tanah....(tolong jangan diiikuti ya). Novel demi novel saya cari versi aslinya, dan saya baca semua. Dari situlah saya ketagihan novel versi asli (bahasa Inggris).

Setelah membandingkan novel versi terjemahan bahasa Indonesia dengan versi asli bahasa Inggris, saya merasakan seberapapun kerasnya penerjemah berusaha, akan sangat sulit memindahkan gaya penceritaan penulis ke bahasa lain. Kemudian suasana novel asli yang sama sulitnya untuk dipindahkan ke gaya bahasa lain, pasti akan ada perubahan. Ada juga aspek-aspek bahasa dan adat-istiadat atau aturan dan norma-norma yang kurang pas jika diterjemahkan. Belum lagi istilah-istilah yang seringkali menjadi terdengar aneh, asing, atau panjang. Semakin kompleks dan dalam suatu novel, semakin sulit novel tersebut untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Dan perubahan-perubahan ini saya rasakan sebagai mengganggu dan mengurangi kenikmatan membaca. Karena itulah kebanyakan saya membaca novel dalam bahasa Inggris.

Buat saya yang berimajinasi cukup kuat ini, kenikmatan membaca novel tidak hanya ada di jalan ceritanya, intrik, misteri dan aksi-aksinya saya, namun juga bagaimana setting novel tersebut, suasana yang ingin dibangun, gaya penulisan, dan detil-detil lain yang seringkali tidak terterjemahkan (uh, istilahnya benar tidak ya? Sepertinya kurang enak... saya ingin bilang untranslated) ke dalam bahasa Indonesia. Dan lagi, sedikit banyak, akan ada pengaruh dari gaya penulisan dari penerjemah yang masuk ke dalam penceritaan, sehingga saya merasa hasil terjemahan adalah kurang sesuai dengan apa yang penulis asli inginkan, kurang original.

Jadi, dengan tidak mengurangi hormat kepada pecinta novel Indonesia (saya juga pembaca novel karya penulis Indonesia lho!), kepada penerjemah yang dengan susah payah menerjemahkan novel ke bahasa Indonesia, kepada pihak penerbit novel bahasa Indonesia, saya menemukan saya lebih menikmati novel dalam bahasa aslinya (bahasa Inggris) dikarenakan membaca novel dalam bahasa aslinya membuat saya bisa tahu suatu novel sesuai dengan gaya penulis aslinya.

Sekian sedikit curhat saya, semoga saya tidak menyinggung terlalu banyak orang. Saya minta maaf jika ada yang merasa kurang suka, curhat ini hanyalah saya berbagi pendapat saya. Jika ada yang tidak setuju, silakan saja. Terima kasih.

..............................................................................................

Finished reading Brandonn Sanderson's newest novel: The Alloy of Law today. Expect the review several days ahead... And my new Fioo E10 DAC suppossed to come tomorrow (Nov, 10) so expect the review after I spent time burning and listening to it.

Sunday, November 06, 2011

Review: Twilight's Dawn

Cover.
Daemon understand what it mean loving Jaenelle Angelline: to stand as a lover, a protector, and when she need it, as a knife ready to draw. He also understand what it mean loving Jaenelle, dream made flesh, Witch, someone who born as one of the short lived race... And after her time walk on the Realm end, how will Daemon cope with the loss of his love? Will it healed? Will he love again, when there is someone who secretly have been love him for her entire life? And when the Saetan D. SaDiablo, his loving father and the High Lord of Hell, stop drinking yarbarah, allowing his power, and his self, fade and back to the darkness, can Daemon accept the responsibility as the Heir of the High Lord of Hell? This story is a story which span decades, covering most of unresolved questions, giving some answer and closure after the event in Black Jewels Trilogy, Dream Made Flesh, and Tangled Web. And the bitter sweet ends it was...


Yup, another review. Review ini untuk memenuhi request dari teman saya Diaz yang bosan dengan review novel saya yang banyak vampirnya hahaha... Dan lagi, saya dulu pernah berjanji untuk membuat review-nya, tapi lalu kelupaan...

Kali ini yang saya bahas adalah novel berjudul Twilight's Dawn, buku (kemungkinan) terakhir dari Black Jewels Series. Kenapa (kemungkinan) terakhir? Karena setelah membaca buku ini, saya merasa pintu petualangan yang melibatkan Daemon Sadi, Lucivar Yaslana, Jaenelle Angeline, Saetan D. SaDiablo dan Surreal SaDiablo ditutup. Mungkin akan ada novel lain dalam seri Black Jewels, tapi saya rasa akan menggunakan karakter baru sebagai tokoh utama.

Novel ini terdiri dari beberapa bagian, karena tujuan dari novel ini adalah memberikan penutup untuk Black Jewels Trilogy, penutup untuk memuaskan fans trilogi novel tersebut yang penasaran dengan apa yang terjadi pada tokoh-tokoh yang terlibat. Ada empat bagian: Winsol Gifts, Shades of Honor, Family, dan The High Lord’s Daughter. Namun saya rasa yang paling ditunggu adalah bagian keempat, The High Lord's Daughter.

Gaya penceritaan masih seperti novel-novel di seri Black Jewels lainnya: detil, dalam, romantis dan gelap. Sesaat setelah membaca paragraf pertama, saya dibawa hanyut masuk ke dalam dunia Blood yang magical, romantis, dengan deskripsi yang indah. Intrik dan misteri terasa lebih sederhana, dengan bagian yang membuat gregetan tidak sedalam dan sebanyak novel sebelumnya, namun ada banyak sekali jawaban untuk berbagai pertanyaan yang muncul selama mengikuti seri Black Jewels. Dan ending di akhir novel yang manis, memberikan rasa puas setelah membaca novel ini.

Untuk anda yang telah membaca Black Jewels Trilogy dan novel-novel Black Jewels sebelumnya, novel ini patut dibaca. Anda akan diberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di pikiran anda, dan tetap menikmati petualangan ala Blood. Untuk yang belum pernah membaca seri novel Black Jewels satupun, baca dahulu novel sebelumnya. Dengan demikian, anda akan dapat menikmati penutup yang manis dan memuaskan...
Recomended! (untuk yang mengikuti seri Black Jewels)


next: Law of Alloy, novella dari Mistborn Trilogy. Terbit tanggal 8 November, review beberapa hari setelahnya. Insya Allah.

Monday, October 31, 2011

Review: House of Night Series

Kenalkan Zoey Redbird, gadis remaja biasa yang hidupnya berubah total setelah ditandai dengan tato bulan sabit biru di dahinya, tato yang menandai Zoey sebagai fledging, atau lebih tepatnya vampyre fledging dan harus memulai hidup barunya di House of Night. Di sana, Zoey harus berjuang agar bisa diterima oleh lingkungan barunya, menghadapi masa lalunya yang terus menghantuinya, saingan, cinta dan berbagai macam masalah lainnya. Hidup Zoey menjadi lebih rumit saat tirai misteri mulai terkuak, membuka kegelapan yang jauh lebih kelam, gelap dan mengerikan dibandingkan kehidupan remaja vampyre di House of Night...
Sesuai dengan janji yang saya tulis di post sebelumnya, kali ini saya akan melakukan review novel House of Night. Sedikit latar belakang, di seri novel ini, gambaran vampir (atau vampyre jika mengikuti istilah di novel) berbeda dengan vampir di novel Anita Blake: Vampire Hunter atau Twilight Saga. Vampir di novel House of Night adalah semacam sub-ras dari manusia yang hidup secara terbuka bersama-sama dengan manusia moderen. Mungkin tidak sampai level tinggal bersebelahan rumah, naik bus umum yang sama atau sebagainya, namun setidaknya mereka terbuka dengan manusia biasa, dan kehadirannya dianggap normal. Setidaknya di novel Anita Blake, vampir baru diterima secara legal di beberapa negara, di House of Night, vampir adalah legal dan umum.

Sedikit yang kurang enak menurut saya adalah bagaimana vampir digambarkan sebagai semacam klan elit yang selalu lebih baik dari manusia biasa. Mereka hidup secara eksklusif, dengan berbagai bakat dan berkah, dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang datang bersama kekayaan yang melekat erat dengan dunia vampir di dunia House of Night. Semua kemudahan dan hal-hal indah ini membuat kesan yang tidak riil, tidak nyata, karena kita semua tahu, dunia tidak seindah yang ada di dunia vampir yang digambarkan di sini. Membaca seri novel House of Night selalu memberikan kesan ke saya seperti sinetron Indonesia: dunia orang kaya, dengan berbagai hal yang terkadang tidak masuk akal. Saya pribadi lebih cocok dengan dunia vampir Anita Blake yang terasa jauh lebih nyata, dimana vampir beragam seperti manusia biasa: kaya, miskin, cantik, jelek, biasa, kurus, gemuk, dll.

Dari segi penceritaan sendiri, novel ini bagus, gambaran emosi Zoey bisa mudah dicerna, terutama karena sudut pandang yang diambil. Character development bagus, walau terkadang terkesan kurang dalam. Mungkin ini dikarenakan sudut pandang dan sasaran dari novel ini yaitu remaja sma. Saya rasa masih pantaslah jika kedalaman emosional dan karakter tidak sedalam novel yang diperuntukkan untuk usia yang lebih dewasa. Membuat saya bertanya-tanya, apakah memang remaja sekarang sedangkal itu?!? (ugh, I'm sure I wasn't that shallow!!!). Hehehehe abaikan, ini karena saya terlalu banyak membaca novel dewasa, dan karena dewasa sebelum waktunya.....
Kalau untuk remaja SMP/SMA saya rasa masih bisa dimengerti kedalaman penggalian karakter dan emosi di novel ini.

Penggalian dan pengembangan karakter kurang dalam untuk karakter yang lain. Di sini, yang paling saya rasakan karakter pengembangan yang dalam adalah di Zoey (tentu saja), lalu Stevie Rae. Nefferet digambarkan standar (spoiler allert!!! Nefferet digambarkan sebagai tokoh jahat standar saja). Damien penggambaran agak lebih dalam daripada Si Kembar. Si Kembar baru mulai tergali pada novel ke sembilan (Destined) yang dirilis 25 Oktober lalu. Bayangkan! Baru digali lebih dalam setelah novel kesembilan....(as the twin would said: Sad, twin, that's just so sad....). Lalu ada si Aphrodite yang..... standar banget (sekali lagi, silakan baca novelnya).

Di sistem magis, sosial dll dapat dengan jelas dilihat dasar Wiccan yang digunakan. Ada elemen-elemen (angin, api, air, tanah, spirit -- mirip dengan lima macam weave yang digunakan di The Wheel of Time), lalu ada gift, atau bakat yang merupakan berkah dari Nyx, Dewi yang disembah oleh para vampir. Adapula sentuhan Indian (atau lebih tepatnya American -- Native American). Sistem magisnya cukup tradisional, tapi tradisional diposisi yang berbeda dengan Harry Potter.
Banyak disisipi puisi, judul-judul buku, lalu ada satiran dari nama-nama orang terkenal (kebanyakan dijadikan vampir, memberikan kesan vampir adalah dominan di segala bidang terutama dalam bidang seni).

Intrik-intrik terjalin dengan cukup bagus, walau kadang bisa ditebak dan sederhana, sekali-lagi, seperti sinetron indonesia. Namun untunglah tidak se-obsessive-compulsive ala Twilight saga...... (kaburrrrrr).
Penjalinan jalan ceritanya oke, mengalir dengan menarik, tidak terasa saya sudah sampai di akhir buku. Penggambaran adegan juga bagus, ketegangan terbangun dengan bagus, adegan mengharukan, menjengkelkan dan sebagainya bisa dirasakan dengan jelas. Sayang makin ke belakang kok makin banyak air mata dan ....ingus. Eww...  yuck... Get a grip, or better yet, tissue paper, Zoey!!!

Secara garis besar seri novel ini sederhana, menghibur dengan cukup banyak sentuhan cool-factor yang menarik. Mungkin agak dangkal, namun masih bisa diterima. Seri novel ini bisa memberikan suasana yang berbeda dari novel vampir lain (Anita Blake, Twilight), dan membuat ciri khasnya sendiri. Reccomended.

Sunday, October 23, 2011

Aneka Ria

Aneka Ria? Seperti judul acara televisi ya? Hehehe saya rasa cocok untuk tulisan kali ini. Ya, seperti namanya, tulisan kali ini isinya ada beberapa macam dan saya harap, bisa membuat anda ceria.

Oke, langsung saja, cerita satu: JAMBU.
Awalnya saat saya membeli teh dalam botol dengan rasa jambu. Iseng-iseng saya putar-putar botolnya dan JENG JENG!!! (efek suara, biar agak dramatis sedikit) mata saya tertuju pada tulisan di kemasan botolnya:

"MINUMAN TEH RASA JAMBU KLUTUK".


Oooo-kay....... Jambu Klutuk. JAMBU KLUTUK!?!?! Eeeee bukankah seharusnya Jambu BATU ya?!?!

Penasaran, saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Online (di sini) dan melakukan pencarian. Hasilnya ada beberapa istilah untuk jambu, diantaranya Jambu Batu yang sama artinya dengan Jambu Biji (Eugenia jambos) dan Jambu Bol (Psidium guajava). Jika melihat versi Inggrisnya yang menggunakan nama GUAVA, saya rasa terjemahan yang lebih tepat adalah Jambu Bol.
Jadi, tulisan di kemasan minuman teh dalam botol tersebut seharusnya adalah:
"MINUMAN TEH RASA JAMBU BOL".
Hihihihihihihi.... aneh juga ya?!?!

Cerita dua: HOT.
Masih berkaitan dengan minuman teh dalam botol, kali ini saya tiba-tiba ingin minum es. Dikarenakan tidak ada warung yang buka, akhirnya saya harus memuaskan diri dengan teh dalam botol dingin. Setidaknya kan sama-sama dingin hehehe...

Saya lumayan suka teh dalam botol yang beraroma jambu BOL (lihat cerita pertama). Kali ini saya menemukan rasa yang agak aneh, ugh, unik: "MINUMANN TEH RASA JAMBU KLUTUK & SENSASI PEDAS". Lebih karena iseng dari pada penasaran, saya ambil minuman tersebut.
Tulisan di kemasan.
Foto lebih dekat tulisan di kemasan.
 Dan rasanya? JENG JENG JENG!!! (lagi-lagi efek suara) rasanya... emmmmm... mmmmm....susah diungkapkan dengan banyak kata, namun saya rasa bisa digambarkan dengan kata ANEH.

Yup, rasanya aneh, aroma jambu dengan pedas-pedas yang tidak pedas, dengan bumbu rasa dan aroma LANGU (apa itu langu? silakan cari di KBBI online). Benar-benar membuat kapok, bukan karena pedas, tetapi karena aneh hihihihi.... Mas-mas, mbak-mbak, bapak-bapak, atau ibu-ibu yang di bagian R&D teh dalam botol, coba deh, dirasakan dulu rasa produk anda sebelum dipasarkan, sebab saya berani bilang, produk percobaan anda kali ini adalah GAGAL TOTAL. Saya rasa ada yang salah dengan lidah para tester dan orang-orang di R&D hihihi....

Cerita tiga: Terjemahan.
Kalau dua cerita sebelumnya menceritakan tentang teh dalam botol, kali ini cerita mengenai pengalaman saya saat berkunjung ke toko Gramedia di daerah Matraman Jakarta. Seperti penduduk Jakarta dan pecinta buku Jakarta ketahui, Gramedia Matraman ini termasuk Gramedia terbesar, dengan 3 lantai berisi berbagai macam buku plus lantai dasar (kenapa ya, kok disebut lantai dasar bukan lantai satu?!?) berisi berbagai macam ATK dan perlengkapan lainnya.

Saya ke Gramedia dengan berat hati untuk membeli buku mengenai pergudangan. Dan saat di sana, entah kenapa kaki saya tiba-tiba berbelok dan melangkah dengan mantab menuju rak bagian............. novel. Go figures.
Anyway, di bagian novel tersebut saya melihat ada beberapa sampul novel dengan judul yang rasa-rasanya akrab di ingatan saya: (dalam huruf kecil-kecil) A House of Night Novel dan dibawahnya (dalam huruf besar-besar) Betrayed dan dibawahnya lagi (dalam huruf sedang) Dikhianati.
Halaman sampul novel kedua House of Night: Betrayed. Modelnya cantik hehe.
 Yep, seri novel House of Night ternyata sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan sudah sampai ke novel kedua. Untuk versi aslinya sendiri sudah sampai seri ke delapan, dengan satu novela pendek dan novel ke sembilan akan dirilis tanggal 25 Oktober nanti.

Saya sebenarnya sudah lama berniat melakukan ulasan seri novel ini, tapi belum sempat hehehehe.... Jadi untuk yang belum membaca dan ragu untuk memulai seri ini, silakan tunggu satu minggu kedepan, saya akan buat ulasannya, dari seri pertama sampai ke sembilan (no spoiler, janji!). Tapi untuk versi aslinya loh ya, versi bahasa Inggrisnya, sebab saya memang belum membaca yang versi terjemahannya hehehehe...

Anyway, sepertinya semakin banyak novel fantasi yang saya ikuti yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. setelah seri Vampire Academy, lalu ada seri The Wheel of Time, lalu seri House of Night. Kapan ya, Mistborn Trilogy masuk ke sini? Kalau setahu saya, The Painted Man dari Demon Trilogy sudah masuk (saya tidak tahu apakah Desert Spear, seri keduanya, sudah diterjemahkan atau belum). Untuk trilogi The Black Jewels, saya pesimis bisa masuk ke sini dikarenakan ceritanya yang cukup agak erotis.

Anyway, ini foto sampul The Wheel of Time buku pertama yang saya temui di Gramedia:
Sampul versi Indonesia.
Ada banyak buku!!

Komen tentang sampulnya? Permainan warna, huruf, hiasan, grafis bagus, tapi modelnya jelek, dan sangat tidak sesuai dengan deskripsi dari tiga karakter utama (saya menebak tiga orang di depan itu adalah Rand ditengah, Mat, adalah yang berambut keriting di samping kiri dan Perrin di samping kanan). Kalau anda sudah membaca novelnya sampai buku ke-12 (seingat saya), pasti anda akan setuju dengan impresi saya.

Saya hampir kalap saat melihat jajaran buku-buku menarik di Gramedia: The Little House series (karya Laura Ingalls Wilder, tentang pembukaan Amerika, kehidupan para pioneer. Veri Indonesia), lalu ada Sapta Siaga dan Lima Sekawan (berturut-turut Secret Seven dan Famous Five versi Indonesia, karya Enid Blyton) lalu ada karya klasik Jules Verne, dan JENG JENG JENG!!! (semoga belum bosan dengan efek suara ini) novel-novel karya N.H Dini, seorang novelis wanita klasik Indonesia. Saya terutama nafsu sekali melihat novel Langit dan Bumi Sahabat Kami, satu judul dari tiga buku kenangan masa kecil N.H. Dini (dua buku lainnya berjudul Sebuah Lorong di Kotaku dan Padang Ilalang di Belakang Rumah). Dan akhirnya buku tersebut sukses saya bawa pulang hehehe. FYI, novel-novel yang saya sebutkan di atas adalah judul novel-novel yang menemani saya dari SD hingga SMA. Karena itulah novel-novel tersebut memiliki tempat tersendiri di hati saya sambil menghapus setitik air mata.

Yap, sekian berbagi pengalaman saya, mohon maaf jika membosankan, dan terima kasih jika menghibur.

Tuesday, October 11, 2011

Review: Huawei S7 Slim (S7-201U) -- Updated


Awalnya dikarenakan ibu yang ikut mengantar saya berburu ponsel, akhirnya ibu jadi ngebet pengen tablet-phone (itu lho, tablet yang ada fasilitas nelponnya) gara-gara megang-megang tablet-phone Nexian Genius di Festival Komputer Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sejak saat itu beliau rajin mencari info buat tablet-phone dibawah tiga juta. Hahahaha ibuku sayang, mana ada tablet-phone dengan harga segitu? Paling murah 3 juta, itu pun dari merek bukan pemain besar (di Indonesia loh yah, bukan di dunia).

Beliau sempat hendak membeli Nexian Genius, tapi selalu tertunda dikarenakan berbagai hal, dan akhirnya kemarin saya melihat ada iklan Bursa Gadget Indosat (maaf, bukan promosi loh yah, cuma bagi-bagi info saja. Infonya di sini, posternya di sini), dimana di posternya disebutkan tablet Huawei S7 Slim dijual dengan harga 2,6 juta dari harga pasaran 2,9-3 juta. Langsung ibu bergegas menyeret anaknya ini ke lokasi.....
Update: Tablet Huawei S7 Slim yang ibu saya beli ini adalah versi 201U ( Huawei S7-201U).

Anyway, tablet sudah di rumah, dan sudah mulai diobok-obok, walau belum sempat diperkosa (maaf efek stress kerjaan). Dan saya sempat-sempatnya menyempatkan untuk menulis review-nya (walau sudah ketinggalan jaman banget, secara ini tablet sudah keluar cukup lama).

Dari sisi hardware, tablet ini cukup powerful: prosesor ARM v7 dengan clock 1 GHz, ram 512 Mb, memory internal 8 Gb, layar 7 inchi 800x480 pixel, kamera utama (belakang) 3.2 MPx kamera sekunder (depan) VGA. Layar sudah capacitive dengan dukungan multi-touch. Bluetooth, WiFi, GPS, 3G/HSPDA, GSensor, Face-detector dll dsb standar android lah. Cukup hig-end.

Dari sisi OS, Huawei membenamkan Android Froyo (2.2) ke tablet ini. Tak lupa Huawei juga memberikan launcher custom dengan nama HELIX (Huawei Emotion LIbrary eXtension) yang cukup menarik tampilannya. Tak hanya di launcher, kustomisasi yang dilakukan Huawei tampak juga di widget, aplikasi pemutar musik, video, penampil gambar/foto, Stream - aplikasi semacam pusat untuk melihat pesan; email; update facebook; twitter; telpon dll - bahkan ke menu SMS dan panel atas android (termasuk notification area).

Sayangnya, HELIX ini lumayan berat, bahkan dengan spesifikasi S7 yang cukup tinggi, terasa adanya lag saat akses menu, home, pindah layar dsb. Sayang sekali, padahal tampilan HELIX ini lumayan menarik. Dan lagi, kustomisasi HELIX ini agak terbatas, dimana kita hanya bisa mengganti wallpaper dan menambah/mengurangi widget dan shortcut saja, kita tidak bisa menambah maupun mengurangi jumlah halaman desktop launcher. Dan tampilan menu-nya pun standar, masih scroll atas bawah. Selain itu, bar yang berada di atas layar terlalu besar, sehingga mengurangi penampang layar. Sayang sekali.

Performa terasa lebih baik saat saya mengganti launcher default menjadi Zeam launcher, launcher paling ringan yang pernah saya temui dan coba. Scroll menu terasa lebih smooth dan tablet lebih responsif. Hanya saja, bar atas custom dari Huawei yang berukuran jumbo itu terasa mengganggu... Mungkin saya harus meng-install custom ROM yang sudah dibersihkan HELIX-nya....

Dari sisi media penyimpanan, cukup besar juga, 8 Gb dalam bentuk internal microsd. Unit yang ibu saya terima ini sepertinya sudah di-tweak oleh Huawei, dimana internal microsd ini sudah dipartisi jadi dua: 2,75 Gb dalam format ext4 (!!!!) dan sisanya sekitar 6 Gb dalam bentuk FAT32. Partisi EXT4 digunakan sebagai internal memory dengan menggunakan sistem app2sd. Ini terdeteksi saat saya mencoba link2sd, dimana beberapa aplikasi besar terbaca sudah dipindah ke partisi EXT4 ini dengan metode app2sd.

Rooting bisa dilakukan menggunakan SuperOneClick. Caranya cukup mudah, tinggal ikuti langkah-langkah yang ditulis pembuatnya dan S7 siap diapa-apakan. Rooting ini sangat berguna, terutama untuk meng-install SetCPU, sehingga bisa memanjangkan umur batterai S7 yang awalnya hanya sekitar 3-4 jam, menjadi lebih dari 6 jam (!!!). Mantab.

Kamera bawaan S7 terbilang standar, dengan fitur standar pula. Video player bawaan hanya bisa membaca H.264 dan MPEG4 (720p HD), sedangkann audio playernya hanya bisa membaca format MP3, AMR, AAC (android kok nggak bisa baca OGG, FLAC dan MKV --"). Tapi tidak usah khawatir, tinggal install pemutar alternatif yang sangat banyak pilihannya di Market. Saya belum mencoba sampai sejauh apa kemampuan hardware S7 dalam memutar video (dikarenakan tidak ada berkas video HD-nya hahahaha).

Bosan dengan ulasan kata-kata? Silakan nikmati tangkapan layar S7 berikut ini:

 Tampilan halaman home launcher default HELIX.

Spesifikasi yang kuat bisa menjalankan live wallpaper dengan lancar.

 Tampilan Notification Area yang sudah dikustomisasi oleh Huawei. Ada Task Manager  juga.

 Tampilan halaman Web launcher default HELIX.

Kustomisasi juga dapat dijumpai di icon panel. Klik icon sinyal dan muncul pilihan seperti ini. Hal yang serupa terdapat di icon baterai dan brightness (icon seperti bunga).

Tampilan menu HELIX.


Tampilan halaman setting. Warna-warni dengan background putih yang cukup menarik.

Tampilan halaman tentang tablet.

 Informasi sistem dengan aplikasi Android System Info.

Informasi mengenai hardware dengan aplikasi Android System Info.

Overall, S7 ini layak untuk dibeli, apalagi jika ada acara diskon seperti yang diadakan Indosat ini. Hardware yang powerfull, dengan dukungan vendor yang cukup bagus, dan seabreg keunggulan Android. Cepat ke Mall Ambassador, promonya hanya dari tanggal 10 sampai 16 Oktober 2011!!! Recommended!!

Monday, October 03, 2011

Review: Vampire Academy Series

"As Dhampir bodyguard to-be, Rose Hathaway must fight Strigoi and other vampire with evil intentions to protect her charge, and her best friend, Vasilisa  "Lissa" Dragomir. Complications come when she meet Dimitri Belikov, her new instructor, prodigy in his own right, and not to mention handsome (or HOT as Rose put it). Torn between love and duty, Rose must fight her way out from tons of trouble, danger, and if she can help it, death..."
Foto courtesy wikipedia.

Kali ini saya ingin mereview seri novel Vampire Academy. Sebenarnya sudah lama seri ini keluar, bahkan spin off-nya sudah ada, tapi baru kali ini tidak malas sempat menulis review-nya hehehe...
Oke, langsung saja, seri novel kali ini bernama Vampire Academy yang terdiri dari 6 buku. Kisahnya ditulis dari sudut pandang Rose Hathaway, seorang dhampir (sebutan untuk hibrid vampire-manusia) yang ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadi seorang putri dari bangsawan vampir (Lissa Dragomir). Kita bisa mengikuti kehidupan sehari-hari Rose, interaksinya dengan dhampir dan vampir lain yang juga bersekolah di St. Vladimir, dan petualangannya menghadapi berbagai tantangan dan bahaya yang menghadang.

Dari originalitas, vampir di novel ini cukup old school (dalam artian: bertaring, tak bisa hidup tanpa darah manusia, tidak tahan sinar matahari dan api, punya magic -- walau magic-nya agak berbeda dengan original vampire Dracula), walau agak menyimpang sedikit seperti sistem magic-nya, kemampuan untuk memasuki gereja dan kemampuannya terkena sinar matahari walau hanya sebentar. Vampire jahat yang digambarkan di novel ini sesuai dengan gambaran standar: Strigoi. Ada juga yang disebut Alchemist, manusia yang menggunakan sains untuk menutupi keberadaan vampir dan strigoi dari pengetahuan manusia biasa.

Gaya penulisan cukup straight-forward, mudah diikuti. Intrik-intrik cukup bagus penjalinanya walau di beberapa bagian kita bisa menebak arah cerita. Namun cukup banyak kejutan yang membuat gemas dan penasaran.
Karakterisasi cukup dalam, setidaknya untuk tokoh-tokoh utama. Kita bisa dengan mudah membayangkan bagaimana wujud Rose, Adrian, Dimitri, Abey Mazur, Lissa dsb. Deskripsi lokasi dan kejadian juga cukup detil, walau terkadang agak kurang di beberapa bagian.

Yang saya rasa kurang adalah ending cerita di novel keenam (Last Sacrifice). Ending novel terasa seperti terburu-buru, dan sangat mudah ditebak, memberi kesan "cuma begitu saja". Kurang menggigit. Berbeda dengan ending kelima novel sebelumnya yang memberikan perasaan lega dan puas. Dan banyak hal yang belum dijelaskan diending novel tersebut. Namun mungkin sengaja dibuat begitu untuk menarik fans ke spin-off seri ini, Bloodline, yang menceritakan cerita baru dengan tokoh utama dari seri Vampire Academy ini. (spoiler alert! Blok untuk melihat. Nama tokoh utama di seri spin-off baru, Bloodline adalah: Sydney Sage, alchemist yang membantu Rose di beberapa bagian).

Ceritanya sederhana, berpusat dikehidupan anak SMA dengan bumbu aksi dan cinta-cintaan. Anda tidak perlu berpusing ria dengan berbagai macam intrik yang saling berjalinan (The Black Jewel Trilogy), atau tokoh yang sangat banyak dengan ceritanya masing-masing (The Wheel of Time Series). Namun juga tidak se-self centered atau love-dovey, atau obsesif ala Twilight (kabursebelumdigebukfanstwilight). Ringan, seru, dengan bumbu aksi yang cukup. Recommended (kecuali ending seri yang kurang menggigit).

PS: Seri Vampire Academy ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia lho!!! Silakan cari di Gramedia atau toko buku terdekat, atau beli secara online. Selamat berburu!!!

Saturday, September 03, 2011

Review Zeam Launcher

Setelah beberapa bulan berkutat dengan ponsel baru Nexian Cosmic Journey, saya mulai berpikir untuk mengoptimalkan hardware-nya. Karena saya tidak ada kemampuan untuk memasak firware sendiri, akhirnya ya hanya bisa mengganti software yang terpasang di sistem Android ponsel saja hahahaha....

Ram dan prosesor coney ini agak mepet, prosesor 528 MHz dengan ram 256 Mb (ternyata ram 256 Mb terbaca hanya 160 Mb dikarenakan yang 100 Mb dikuasai oleh kernel linux....), saya berpikir untuk mengganti launcher dan home yang dipakai oleh Coney ini. Setelah mencoba berbagai macam launcher, akhirnya saya menemukan Zeam Launcher sebagai launcher paling ringan dengan fitur yang cukup lengkap.

Zeam Launcher bisa di dapat di Android Market langsung dari ponsel atau melalui web dari sini. Ukurannya hanya 403 kb, sangat kecil dan ringan bila dibandingkan dengan launcher lainnya (launcher bawaan coney sekitar 1,7 mb). Install dan jalankan dengan menekan tombol home. Nanti akan ada pilihan launcher mana yang akan digunakan, pilih Zeam Launcher.

Fitur-fitur yang disediakan Zeam Launcher benar-benar berpusat pada home dan launcher saja. Tidak ada widget-widget tambahan, tidak ada pilihan themes (sayang sekali, tapi mungkin hal ini yang membuat Zeam sangat ringan), tidak ada animasi 3D ataupun yang aneh-aneh. Namun kita masih diberi kesempatan untuk mengkustomisasi beberapa bagian seperti bentuk menu (up-down scroll atau page, akan dibahas lebih nanti), dock (kumpulan ikon di bagian bawah layar), gesture (akan dibahas nanti), dll.

Langsung saja, berikut ini beberapa tangkapan layar tampilan home/desktop dari Zeam:

Sangat sederhana, hanya ada dock dibagian bawah. Saya sengaja tidak menambah widget apa-apa karena ingin pamer wallpaper saya (hahahaha). Dock ini dapat dikustomisasi bagian background-nya, apakah ingin warna hitam, abu-abu, bening, dsb. Icon dapat ditambah dan dikurangi dengan melakukan sentuh-tahan kemudian geser (ke tempat sampah untuk menghapus, ke arah dock untuk menambah icon).
Selain dock, jumlah desktop juga dapat diubah sesuai keinginan. Untuk melakukan pergeseran desktop/home, silakan sapu jari anda ke kiri atau ke kanan. Juga ada pilihan untuk desktop scrolling, jadi saat anda sudah sampai di ujung desktop, jika anda melakukan sapuan jari lagi, makan anda akan otomatis dipindahkan ke ujung  desktop yang berlawanan. Untuk melakukan preview seluruh desktop, anda bisa melakukan gerakan mencubit (pinch) untuk ponsel dengan dukungan multi-touch.

Bentuk tampilan menu juga dapat dikustomisasi. Zeam menyediakan dua pilihan tampilan: up-down scroll seperti bawaan vanilla android maupun page view (contohnya seperti yang ada di HTC Sense ataupun Samsung TouchWiz).


Berikut contoh tampilah page view:

Perpindahan halaman menu di page view bisa dilakukan dengan menyapu layar ke kiri dan ke kanan, seperti menu Samsung TouchWiz ataupun HTC Sense. Latar belakang menu juga dapat dikustomisasi, namun lebih ke seberapa besar transparansi latar. Kita dapat menset dari maksimal (membuat latar belakang berwarna hitam) maupun angka yang lain sesuai dengan keinginan kita.

Fitur favorit saya adalah gesture (di Zeam ada di Action Bindings), dengan ini kita dapat menset perintah yang akan dilakukan saat kita membuat suatu gerakan di layar. Saat ini baru ada empat gerakan yang dikenali: sapu ke atas (swipe up), sapu ke bawah (swipe down), home button (menekan tombol home), dan double tap (menyentuh ganda).
Untuk pilihan-pilihan lain, bisa diakses di halaman preferences yang bisa diakses dengan menekan tombol pilihan saat berada di home/desktop kemudian memilih Preferences.
Secara keseluruhan, saya merasakan Zeam Launcher ini sangat ringan, dengan fitur yang cukup lengkap (saya terutama sangat suka dengan page view menu dan gesture/ actions bindings). Dibandingkan dengan launcher lain, Zeam ini lebih ringan, cepat, dan tidak menghabiskan baterai.
Recommended!!!

Wednesday, July 13, 2011

Review Audio-Technica SJ33 (Update foto)

edit: update foto.
Bulan Mei kemarin saya berkesempatan memboyong headphone keluaran Audio-Technica SJ33 di acara Festival Komputer Indonesia. Yaah kira-kira bersamaan dengan Coney lah. Ini juga sebenarnya tidak berniat membeli, tapi ada dua “setan” yang membujuk saya (ngeles).

Audio-Technica SJ33 saya bersanding dengan FiiO E10 DAC.

Balik ke review, headphone ini saya tebus dengan harga 425 ribu rupiah. Saya kurang tau harga pasaran tapi perkiraan saya sekitar 500-550 ribu rupiah. Ada dua warna yang tersedia, putih dan hitam. Awalnya saya hendak mengambil yang putih tapi saya khawatir cepat kusam, akhirnya saya ambil yang warna hitam.

Paket pembelian hanya ada headphone, beberapa kertas, dan kotak bening pembungkus. Tidak disertakan kotak untuk membawa headphone. Kita harus membeli sendiri. Sebagai perbandingan, headphone portable dbe Ph10 saya datang dengan kotak/dompet penyimpan di paket pembeliannya.

Kostruksi headphone ini cukup bagus, walau semua terbuat dari plastik ringan namun saya rasa masih bisa menahan perlakuan agak kasar. Kabelnya terbuat dari bahan yang cukup plastik lunak yang sekilas seperti karet yang cukup tebal dan elastis. Secara garis besar, konstruksi dan bahan yang dipergunakan cukup bagus.
Dengan engsel di dua tempat.

SJ33 ini tipe closed-back, sehingga isolasi cukup bagus, walau belum sebagus IEM M6 saya, tapi jauh lebih bagus daripadah PH10 yang saya miliki. Ukurannya berada diantara supra-aural dan circum-aural, namun saya rasa telinga orang Indonesia masih muat masuk ke dalamnya. Pad SJ33 cukup lembut dan empuk, nyaman ditelinga. Namun ada kecenderungan untuk menghangat setelah beberapa waktu. Clamping force cukup kuat, namun masih dalam batas kewajaran

Headphone yang saya miliki hanya headphone portable dbe Ph10 dan IEM MEElectronics M6. Jadi saya tidak bisa membandingkannya dengan headphone portable lainnya. Kecuali kalau ada yang hendak meminjamkan headphone portablenya ke saya untuk direview dan dibandingkan? :D :D (ngarep)

Karakter suara headphone ini bassy, dengan mid sedikit mundur netra;, agak maju dan treble yang cukup spiky. Bass menjangkau cukup dalam, dengan mid-bass yang agak dinaikkan, memberikan kesan warm ke suara. Mid agak mundur, memberikan kesan vokal yang laid-back. Treble cukup jangkauannya, dengan spike di beberapa frekuensi. Sama sekali tidak bisa dikatakan smooth.

Soundstage cukup luas untuk ukuran headphone tertutup, dengan positioning yang cukup bagus, namun kurang 3D. Suara lebih dominan kiri-kanan, sedangkan posisi lain agak kurang jelas. Untuk lagu-lagu pop, rock, rnb dan mainstream musik lainnya, positioning dan separasinya masih cukup, namun untuk musik klasik dan jazz (terutama yang audiophile-grade) akan terasa kurang.
Detil cukup, namun menurut saya, headphone ini bukan untuk detil, tetapi lebih ke bagaimana menikmati musik secara keseluruhan (istilah kerennya musical).

Dibandingkan M6 saya, SJ33 ini memberikan kesan yang lebih dingin, lebih bright. Vokal SJ33 lebih sedikit mundur, namun bass lebih warm dengan mid-bass yang lebih ketara. Deep bass di SJ33 lebih besar dari M6, lebih menghentak, kontrol bass kurang lebih sama. Treble kurang lebih sama, namun dengan spike yang berbeda. Jika spike M6 berada di upper-high, maka spike SJ33 berada di semua frekuensi. Soundstage lebih besar SJ33 namun positioning dan separasi lebih bagus M6.

Dibandingkan dengan dbe PH10 mod saya, vokal SJ33 lebih kering dan lebih mundur. Vokal di PH10 mod saya lebih lush dan smooth. Treble SJ33 juga terlihat sekali lebih spiky dibanding treble PH10 mod saya yang smooth. Bass SJ33 lebih dalam, lebih keras, namun mid-bass lebih kecil. PH10 mod saya bass-nya lebih berfokus ke mid-bass. Kontrol bass lebih bagus PH10, bass lebih tight dan punchy namun kurang impact dan kurang besar. Dibandingkan SJ33, PH10 saya terdengar lebih dark, warm, dan smooth. Soundstage lebih luas SJ33, namun separasi dan positioning jauh lebih bagus PH10 mod saya. Kita bisa dengan mudah mendengar posisi alat musik dan vokal.

Dari sisi kenyamanan SJ33 ini jauh lebih nyaman daripada PH10 maupun M6. Pad yang empuk, dengan ukuran yang besar membuat SJ33 lebih nyaman dikenakan. Dari sisi isolasi, SJ33 masih kalah dari M6 (ya iya lah…) namun jauh lebih bagus dari PH10 (PH10 berbentuk supra-aural yang hampir tidak memiliki isolasi). Dari sisi portabilitas, ukuran SJ33 yang lebih besar membuatnya lebih kurang portable. Memang SJ33 bisa dilipat, namun tetap lebih kurang ringkas dibanding M6 (IEM, tinggal digulung dan ada dompet penyimpanannya) maupun PH10 (yang berukuran kecil dan bisa dilipat, serta ada dompet penyimpanannya).

Kesimpulan, jika anda mencari headphone portable yang nyaman, dengan kualitas suara yang bagus, headphone ini bisa dicoba. Dibandingkan dengan headphone portable keluaran sennheiser, headphone ini menang di sisi isolasi dan kenyamanan.

Tuesday, June 21, 2011

Review: Nexian Cosmic Journey (Updated 1, 2, dan 3)

Saya sudah lama ingin ganti handphone, tapi baru kesampaian saat ini. Maklum baru ada dana hahaha. Di pameran komputer dan handphone di JCC kemarin saya berkesempatan memboyong pulang handphone Android Nexian Cosmix Journey. Lumayan murah, 1,5 juta saja. Saya sebenarnya mengincar CSL Mi320 seharga 1jt tapi ternyata sudah habis.

Kok Nexian sih? Kenapa tidak X8 atau Galaxy Mini atau Optimus ME yang sama-sama berharga 1,5jt? Alasannya: layar. Saya butuh layar yang cukup lebar dengan resolusi yang cukup dan multitouch. X8 layarnya 3,2" dan tidak mendukung multitouch, Galaxy Mini dan Optimus ME resolusi layarnya hanya 240x320. Saat dibandingkan, terlihat jelas layar Coney lebih halus dari Mini / ME, tapi masih kalah halus jika dibandingkan dengan X8, Samsung Galaxy Gio (ya iyalah, secara, Gio dan X8 memiliki resolusi 320x480 dengan penampang 3,2") apalagi saat dibandingkan dengan layar Apple Iphone 4 (no comment deh).

Fisiknya: tombol power dan lubang jack audio diatas; tombol volum, slot microsd dan kamera di samping kanan; slot microusb di bawah; dan tidak ada apa-apa di sisi kiri :D. Di bagian muka ada ear-speaker (ga tau istilahnya); light sensor; tulisan Nexian; layar 3,5" dengan proximity sensor; empat tombol capacitive/ tombol sentuh; dan lubang mic di bawah. Bagian belakang terdapat lubang speaker dan kamera.
Spesifikasi Nexian Cosmic Journey (yang saya beri nama Coney ini) adalah:

  • Prosesor Arm6 528MHz
  • Ram 160Mb update: ternyata RAM Coney memang 256 Mb, yang 100 Mb dipakai oleh kernel linux.
  • Memory internal 200Mb
  • Layar 3,5" HVGA 320x480 capasitive touchscreen dengan multituch support
  • Kamera 3 Mpix dengan flash light minus autofocus
  • Fitur lainnya standar Android: 3G, bluetooth, gps, wifi, microsd slot, auto-rotate, dll.
  • Kelengkapan paket pembelian: unit hp, baterai, headset, charger dan kabel data microusb, microsd 1gb yg terisi Nexian music player dan berbagai buku dan kertas-kertas.
Kalau dilihat dari sisi prosesor dan ram, hp ini masih dibawah seri Android keluaran Nexian sebelumnya, yaitu Nexian Journey. Dan dari sisi kinerja memang cukup terasa, scrolling dan akses menu tidak sehalus X8 ataupun Samsung Galaxy Mini (keduanya memiliki prosesor berkecepatan 600 MHz dengan ram 256Mb --X8 384Mb --Mini) tapi untuk keperluan sehari-hari masih cukup kok. Asal jangan digunakan untuk memainkan game HD ataupun video 360 dpi keatas, pasti patah-patah :D

Sistem Android Froyo yang dibawa Coney ini termasuk vanilla (masih asli tanpa ada perubahan), hanya home atau launcher saja yang diubah oleh Gigabyte (oh iya, Coney ini rebrand produk Gigabyte Gsmart, tapi saya kurang tahu seri apa, sepertinya sih Gsmart Rola. Ini video preview Gigabyte Gsmart Rola http://www.youtube.com/watch?v=qUr5SpHyPQk).

Di launcher bawaan Coney, ada panel bawah dengan tiga icon: Dialer, Menu, dan Contact yang dipisahkan dua titik di kiri dan di kanan. Titik-titik ini menunjukkan home screen yang berjumlah empat (dan sayangnya tidak bisa dikurangi). Home screen bisa dipindah dengan menggeser layar ke kiri-kanan atau dengan menyentuh titik-titik di panel bawah. Tekan-tahan panel bawah dan empat preview home screen akan tampil yang memudahkan kita melihat dan berpindah home screen dengan cepat.

Menu Coney masih standar Android 2.2 (Froyo) dengan scrolling ke atas-bawahnya (update: tersedia update build number froyo di Nexian Center yang memperbaiki stabilitas penangkapan sinyal. Tapi tidak bisa di-root dengan z4root. Sumber Kaskus).
Akses menu cukup cepat, namun terkadang ada sedikit lag saat scroll terlalu cepat. Fitur-fitur di dalamnya juga masih vanilla Android, mulai dari contact, messaging, email, music player, file manager, galery hingga kamera. Berbeda dengan produk keluaran produsen lain yang rata-rata sudah dikustomisasi (TouchWiz, MotoBlur dll). Performa layar capacitive Coney sendiri termasuk bagus, responsif, dan jernih. Sayang saat dibawah sinar matahari tampilannya pudar sekali dan sulit untuk dilihat (update: pasang brightness ke nilai maksimum, lumayan bisa dilihat di bawah sinar matahari).

Seperti yang disinggung di atas, tampilan pemutar musik Coney ini standar bawaan Android. Kualitas speakernya sendiri saya tidak pernah mencoba, karena saya tidak menggunakan hp ini sebagai pemutar musik :D. Keluaran suara dari jack audionya mengecewakan: bass terlalu besar dengan mid-bass yang melebar kesemua frekuensi, treble yang sangat roll-off dan midle yang mundur. Sansa Clip saya mampu memberikan output yang jauh lebih bagus. Saya menggunakan IEM MEElectronic M6, headphone dBE PH10 dan headphone Audio-Technica ATH-SJ33. Kalau anda seorang audiophile, jangan dekati pemutar musik hp ini... Update2: ternyata ini masalah dari firmware yang kurang stabil. Cara restart kualitas audio: nyalakan pemutar musik, lalu pindah ke radio, pilih satu gelombang lalu langsung pindah ke pemutar musik dan mainkan lagu. Tanpa menghentikan lagu, matikan radio. Kualitas suara Coney lumayan, outputnya rich agak bright. Bass agak boomy, separasi dan soundstage so-so saja.

Hasil kameranya diluar dugaan, bagus juga. Beda dengan hasil kamera ponsel-ponsel lokal lainnya :D. Lampu kilatnya hanya mampu mencapai jarak sekitar 40-50cm. Sayang, dengan pengaturan standar, warna hasil tangkapan terlihat kebiru-biruan. Mengubah pengaturan warna ke mode outdoor memperbaiki hasil kameranya. Di unit yang saya miliki, tombol kameranya agak susah digunakan, perlu tekanan yang agak keras.
Update 3: contoh hasil kamera.
Hasil  foto sore hari sekitar pukul 15.30 WIB
Hasil foto pagi sekitar 05.45 WIB
Foto siang hari sekitar jam 12.45 WIB

Bluetooth dan wifi bekerja tanpa masalah. HSPDA tersedia di slot sim pertama sedangkan slot sim kedua hanya sampa EDGE saja. Penangkapan sinyal sangat bagus. Terdapat fasilitas tethering di sini baik melalui wifi maupun melalui kabel data (dengan kata lain Coney menjadi modem internet). GPS-nya sangat cepat malakukan penguncian (luar ruangan dan rumah hunian biasa), tapi jika di dalam gedung bertingkat akan memakan waktu lebih lama.

Ah, bosan membaca isi post yang isinya kata-kata terus? Nih, saya sudah siapkan tangkapan layar dari tampilan Coney:
Home screen/ launcher default Coney
Home screen kedua Coney dengan widget on'off internet, sim switcher, wifi tethering dan on/off fasilitas lainnya.
Notification area yang dimunculkan dengan menarik kebawah panel atas. Masih vanilla tanpa tambahan apa-apa.
Menu Coney yang diakses dengan scroll atas-bawah.
Fasilitas akses cepat aplikasi yang baru dibuka dengan menyentuh-tahan tombol home.
Contact vanilla Android dengan fasilitas pencari cepat berdasar huruf awal.
Pemutar musik standar Android. Sayang outputnya mengecewakan.
Galeri standar Android, tanpa efek 3 dimensi dan lain-lain.
Galeri standar. Efek pinch-to-zoom bisa digunakan karena layar Coney mendukung multitouch.
Informasi versi Android, kernel Linux, dll.
Informasi detail dengan bantuan aplikasi tambahan. Ternyata prosesor Coney hanya 528 MHz dengan ram 160 Mb bukan 600 MHz / 256 Mb seperti kata iklan.
Baterai Coney memiliki rating 1260 mAh dengan jenis Li-Po (Lithium-Polymer). Waktu pengisian sekitar 3-4 jam jika mengisi dalam keadaan hidup dan lebih dari 8 jam di kondisi mati. Aneh memang (update: jika cahrging sudah beberapa jam tidak segera penuh, copot charger, matikan hp, tunggu hingga baterai dingin, charge ulang. Bila baterai panas Coney ini menolak untuk di-charge). Dengan penggunaan standar, Coney (seperti handset Android lainnya) sanggup bertahan satu hari penuh. Matikan koneksi internet, wifi, bluetooth, gps, slot sim kedua, dan underclock prosesor maka Coney bisa bertahan hingga 2 hari.

Kesimpulannya, untuk sekedar berinternet (browsing, facebook, twitter), game ringan (angry bird, crazy bird, dll) dan sedikit edit dokumen, masih sangat cukup. Gamer dan movie freak, silakan melihat ke handphone atau ke pmp lain yang lebih powerfull.