Friday, August 21, 2009

Mari Mudik!!!

Wah, tak terasa besok sudah mulai puasa, malam ini mulai tarawih. Di mana-mana suasana ramadhan mulai menyelimuti, hiasan-hiasan, diskon-diskon (huray!!), sale (double huray!!), dan tak lupa mudik.

Saya bertahun-tahun tidak pernah merasakan rasanya mudik, atau nikmatnya berjuang mudik (seperti yang sering diceritakan dengan berapi-api oleh saudara-saudara saya dulu). Tapi sejak saya kuliah dan tinggal di ibukota Indonesia bernama Jakarta ini, mau tak mau, mudik menjadi satu eeeee... pilihan (?). Well, bukan kebiasaan, karena tidak setiap tahun saya sekeluarga bisa pulang ke tanah air bernama Ngawi. Eh, jangan salah, biarpun kecil, (yeah, I know, its a very very small city), but its quite famous you know! Pernah dengar tempat artis paling sopan se-Indonesia mengalami kecelakaan hingga meninggal? Tahu satu-satunya kota yang selamat dari grebekan Front Pembela Islam beberapa tahun lalu? Ya, itulah Ngawi. Biarpun namanya terdengar aneh, gini-gini namanya di-'contek' lho, sama satu kota di luar negeri!

Dan lagi, Ngawi itu kota tua lho! Hampir setua Jakarta! Saat ini mencapai 650 thaun lebih. Saat kota-kota lain masih menjadi hutan belantara, Ngawi sudah didiami dan menjadi pusat kebudyaan, baik purba maupun modern. Di Ngawi lah ditemukan berbagai fosil kera purba. Di Ngawi juga ada musium bernama Trinil (walau sayang sekali kondisinya kurang terawat, seperti juga musim-musium di Indonesia lainnya). Belum lagi berbagai peninggalan kerajaan Mojopahit. Hmm, jadi sebenarnya Ngawi itu kota terkenal yah... hehehe...

Yang membuat rindu Ngawi itu adalah..... udaranya.... pemandangannya.... langitnya....suasananya.... Udaranya masih cling cling cling, yang begitu kita hirup, rasanya kaya ngebersihin kotoran polusi di paru-paru. Pemandangannya... luas... hijau.... lengang.... Langitnya... luas.... membentang.... biru bersih.... kita bisa melihat langit dari satu sisi ke sisi lain, tak terhalang gedung-gedung bertingkat... kalau malam, bintang-bintang terlihat kerlap-kerlip, kita bisa melihat dengan jelas, tidak seperti langit Jakarta yang burem, murem, nggak kelihatan apa-apa, membawa suasana claustrophobic.... Suasananya... begitu damai... tenang...

Wah, jadi ngelamun tentang Ngawi. Padahal tadi sedang membicarakan tentang mudik. Jadi ceritanya, tadi pagi saya disuruh ibu ke stasiun Senen untuk... memesan tiket kereta (apalagi coba? Masa iya mau ngemis...). Karena libur ibu hanya sebentar, jadinya terpaksa pesan kereta eksekutif. Liat-liat harga, O-EM-JI..... Gile beut, tiket yang harga awalnya 220 ribu, naik jadi 450 ribu.... Olalalala beibeh.... pusing dah...

Ambil formulir, isi, isi, beres, tinggal ngisi nama kereta (sudah saya isi sebagian, isinya Argo titik-titik) dan tanggal. Ibu pesannya tadi nyari kereta tanggal 17 dan 24 (bisa langsung dipesan lho, buat baliknya! Yea!!!) September. Lihat status kursi di monitor LCD (duh, ngiler euy, liat el-ci-di-nya!), alamatjang.... Argo Lawu jurusan Jakarta-Solo tanggal 16 keatas sudah habis! Trus trus mata turun, mencari Argo Dwipangga.... tanggal 17.... masih 8! Yea! Langsung saya tulis, Argo Dwipangga, tanggal 17 September, jumlah Satu (buat ibu ajah). Trus nunggu deh, antrian, untungnya cuma ada dua bapak-bapak di depan, jadi kalaupun mereka beli Argo Dwipangga juga, masih bisa dapat jatah hehehe....

Setelah kurang lebih 10 menit menunggu, akhirnya giliran saya. "Mbak, tanggal 17, Argo Dwipangga satu. Dibungkus, nggak pake sambel ya!" (ups, ga ding... bagian terakhir nggak ada kok hehehe). Setelah menyerahkan formulirnya, saya bertanya lagi, "Mbak, mbak, sekalian pesan tanggal 24 september dari Solo. Adanya kereta apa ya, mbak?"
"Tunggu ya mas, saya cek dulu..." kata si mbaknya. Kemudian, "Argo Dwipangga, mas"
"Ada Argo Lawunya nggak, mbak?" Kenapa Argo lawu? Karena tiketnya lebihmurah 5 ribu dibanding Argo Dwipangga. Mayan kan, 5 ribu.... hehehehe...
Dicek lagi, kemudian, "Ada mas".
"Ya sudah, Argo Lawu satu tanggal 24!"
Selesai deh, akhirnya saya pulang dengan membawa dua tiket, seharga total 880 ribu. Gila beut. Ampun dah. Mahal....

Lha trus, kapan saya dan Ayah mudiknya??? Saya rencananya pulang sekitar tanggal 8,9,10 September, naik kereta bisnis ajah. Dan yang serem, tadi saya lihat kereta bisnis Senja Utama Solo, dari tanggal 13 sudah kosong.... Sedangkan Bangun Karta masih ada hingga tanggal 16. Waduh, gaswat, musti cepat-cepat pesan nih... tapi duwitnya kurang... terpaksa deh, besok. Ayah sekitar 4 hari sebelum Lebaran, numpang mobil saudara yang juga mudik. Ihh... nggak kebayang deh, mudik naik mobil... macetnya bo....

Mudik, oh mudik... orang sampai rela bersusah-payah, bermahal-mahal, demi mudik....


----update-------
tadi baru saja saya ke stasiun Senen untuk memesan tiket kereta api Bangunkarta, begini ceritanya:
"Mbak, kereta bangunkarta tanggal sepuluh masih ada kan?" tanya saya.
Si Mbaknya jawab, "Wah tanggal sepuluh keatas sudah habis mas, adanya tanggal sembilan..."
Langsung saja saya sambar, "Ya sudah, itu saja deh, mbak!"
Dan uang 130 ribu pun berpindah tangan....
Akhirnya saya jadi mudik tanggal 9 september....Ngawi, I'm coming (soon)....

2 comments:

arros said...

ngopo mulih ji?
ngawi panas...

Pan said...

waduh... namanya juga tanah air beta, pusaka abadi nan jaya....:P

Pengen pulang wae, mumpung masi dikasi kesempatan...