Wednesday, March 23, 2011

Review: Tiffany Aching Series from Discworld Series

Tiffany Aching, gadis kecil berumur sembilan tahun, memiliki memiliki cara berpikir dan cara melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang-orang disekitarnya. Sepintas lalu, TIffany tidak berbeda dengan anak-anak lain seumurannya, bahkan Tiffany termasuk anak rajin, penurut dan tidak suka membaut keonaran. Namun cara pandang dan pola pikir Tiffany yang berbeda membuatnya mampu melihat dunia tempatnya tinggal sesuai dengan kenyataan sebenarnya, karena orang-orang di dunia Tiffany mempunyai kebiasaan untuk melihat apa yang mereka ingin lihat.

Petualangan Tiffany dimulai di pinggir sungai di desanya dimana Tiffany bertemu dengan makhluk kecil berwarna biru mengenakan kilt (pakaian tradisional orang Irlandia), monster jelek yang muncul dari dasar sungai dan berusaha memakan Tiffany dan adiknya (yang pada akhirnya dipukul oleh Tiffany menggunakan penggorengan besi) hingga akhirnya Tiffany menemukan kenyataan bahwa Tiffany adalah seorang penyihir (witch) dan ada kekuatan tersembunyi yang datang ke desa Tiffany dan membawa bencana bagi anak-anak kecil. Mampukah Tiffany mengalahkan kekuatan tersembunyi tersebut sedangkan ia baru saja mengetahui bahwa dirinya seorang penyihir?

Seri Tiffany Aching merupakan bagian dari seri Discworld karya Terry Pratchett. Sejauh ini ada empat novel mengenai Tiffany Aching: The Wee Free Men, A Hat Full of Sky, Wintersmith, dan I Shall Wear Midnight. Keempat buku ini menceritakan perjalanan Tiffany Aching yang berumur sembilan tahun dalam menyelami dunia baru yang asing untuknya: dunia seorang penyihir.

Pengarang seri novel ini, Terry Pratchett, membuat dunia fantasy yang benar-benar berbeda, dan unik. Di dasari dari berbagai mitologi klasik, dunia Discworld digambarkan dengan detil, indah dan unik. Anda akan dengan mudah membayangkan dunia dimana Tiffany berada. Gaya penceritaan, penulisan dan pola pikir karakter-karakter di seri novel ini pun benar-benar unik. Saat membaca, saya selalu tertawa kecil dan takjub dengan pola pikir berbeda yang dituangkan sang pengarang (lihat saja nama-nama tokoh di novel ini: Tiffany Aching, Rob Anybody, Miss Tick, dsb).

Plot dituang dengan sederhana, tanpa intrik-intrik yang membuat pusing, tanpa plot-twist tersembunyi yang membuat kaget, semua ditulis mengalir satu jurusan. Tetapi selalu ada kejutan kecil yang membuat kita tersenyum dan kagum akan kejeniusan sang pengarang. Setiap novel dipenuhi humor-humor ringan dan sederhana, namun juga terdapat saat-saat menyentuh, seperti di ending buku ketiga, Wintersmith. Apakah itu? Anda harus membacanya sendiri untuk mengetahuinya :D.

Pembangunan karakter cukup bagus, terutama untuk tokoh-tokoh utama, dan tokoh-tokoh penting. Mungkin selain tokoh utama, karakter dibahas tidak terlalu mendalam, tapi kita dengan jelas dapat menebak seperti apa kira-kira sifat-sifat berbagai tokoh tersebut. Sistem sihir di dunia Discworld berbeda dengan sihir standar novel high-fantasy umumnya, di sini witching (sebutan untuk semua kegiatan yang dilakukan witch) lebih kepada tidak menggunakan sihir untuk melakukan sesuatu (yang jelas sangat berbeda dengan dunia Harry Potter, misalnya, dimana sihir digunakan disetiap tarikan nafas).

Walau novel ini aslinya ditujukan kepada young-adult (klasifikasi pembaca di luar negeri yang merujuk kepada usia 14-21 tahun, namun saya tidak akan segan untuk merekomendasikan seri novel ini kepada semua usia (walau untuk anak dibawah 10 tahun mungkin terlalu rumit gaya bahasanya). Sederhana, indah, menghibur, dan dengan pesan-pesan moral yang bagus. Recommended!!!

2 comments:

Rahayu Permatasari said...

Hallo,

Oh Ya Ampun, setelah ngubek ngubek dan blok walking sebegitu lamanya akhirnya saya nemu juga penggemar Tiffany Aching series. Yang artinya suka juga sama karyanya Abah Terry Pratchett. Duuhhh haha. Btw si wintersmith dan I Shall Wear Midnight ngga diterbitin di Indonesia ya ? sayang banget karena seri ini asik dan seru deh.

Btw salam kenal yaa...
Mampir-mampir ke lapak saya sthaap.blogspot.com

Regards,

Panjoel said...

Mbak Rahayu Permatasari
Hallo juga...
Iya, jarang sepertinya orang Indonesia yang suka karya Terry Pratchett. Karya beliau memang unik sih, jadi saat diterjemahkan ke bahasa Indonesia suka agak aneh dan susah. Lebih enak dinikmati diversi asli bahasa Inggrisnya.

Ngomong-ngomong, sudah baca buku terakhir dari seri Tiffany Aching ini belum? Ini buku terakhir dari Terry Pratchett sebelum beliau meninggal...