Showing posts with label Erotis. Show all posts
Showing posts with label Erotis. Show all posts

Friday, December 20, 2013

Another End of Year. And Another Review of Beyonce Newest Album.

So here we are: on the last month of the year. Another New Year. Another post about how your year go, how much you do, how much your resolutions fulfilled. Reflections. Badda-badda-do. Whatever.

So, I'm thinking about closing this year with a BANG. So do Beyonce. While I still turning my brain inside out (not really, but you get the gist), Queen B drop the bomb of the year in shape of an album consisted of 14 tracks, with 14 VIDEO CLIPS!!!

 Wow. Just... WOW.



Her album is quite dark, and minimalist. Yes there are fat and delicious bass line. But there are very few of those glittering laser and neon light. I'm counting maybe 2 or three. Others are filled with minimalist, slow and dark jam. And with retro, 80's feels sprinkle on the top.

Beyonce vocal, like always, soaring through the simple music, gliding and turning like bird through the sky. A dark, smooth, beautiful bird. Her technique is superb, her breath is strong, and wholly, she is just AWESOME.

As a whole, Beyonce is a very strong album. Yes, there aren't that many tracks which radio friendly. I like Pretty Hurts (really love the lyric), Partition (oh yeah), Jealous (simple yet strong), Rocket (nice vocal works there!), XO (simply sweet and cheerful) and, the last but not the leaset: Blue (featuring her daughter voice, which very cute).
Personally, I think those are the best tracks. Rocket got very nice vocal and melody works, but the lyric is ... let just say I'm not going to sing it loudly outside

And the video clips got very nice video works. Again, Pretty Hurts, Partition, Jealous, Rocket and Blue shines here. Blow is a fun, 80's retro video. XO is down to earth Beyonce. BUT! (yes, there will always be but) there's this Rihanna-esque from the videos. I keep expect Ri-Ri to pop-out from nowhere and sing the lines, like the one on Drunk in Love, Yonce (yep, you heard me right), and Haunted.
And it got lot of booty. And skins. And booty. Seriously. Yes we guys (I) love booty, but we (I) like them discreet, flash us (me) here and there and we (I) will keep thirsty for more. Flood us (me) in booty and we (I) will get sick of it. Eventually. Or maybe not. LOL.

So, there you are: my review of Queen B newest album, BOMB. Ignore me and enjoy the album (and the videos). This one is really nice and solid album. Just don't hit shuffle, because this album is best enjoyed straight from track 1 to track 14.

pssst... Queen B booty is really HOT!!!

Monday, December 05, 2011

Review: The inheritance Trilogy (N. K. Jemisin)


Catatan: bukan novel vampir...
Saya pertama bertemu buku ini dari rekomendasi satu situs review buku fantasy. Namun awalnya saya kurang tertarik karena isinya berisi mengenai dewa-dewa dan manusia, pengalaman saya membaca buku dengan tokoh dewa selalu kurang sreg: dewa dengan sifat seperti manusia. Maklum, ajaran agama saya hanya mengenal satu Tuhan, yang tidak bisa disamakan dengan manusia. Tapi karena penasaran, saya baca juga buku ini hehehehe....
Once upon a time, there were nothing but a great, churning mass of chaos, power, possibilities, unknown , The Maelstorm. Then some time, Maelstorm spit out a Being, who was wild, churning, eternal, ever changing. But there was nothing: no people, no places, no spaces, no darkness, no dimension, no EXISTENCE. And so He promptly set out to create something, by going mad and tearing Himself. And so EXISTENCE created...

Tiga buku ini memiliki tiga tokoh yang berbeda di tiap buku. Namun setiap buku merupakan satu kesatuan cerita yang berkelanjutan. Saya sendiri lebih suka menyebut sebagai satu kisah yang diceritakan oleh tiga tokoh. Tidak usah khawatir, karena tokoh-tokoh yang terlibat masih saling berkaitan dengan buku sebelumnya. Namun seperti novel Epic Fantasy lainnya, novel ini memiliki kekurangan yang berupa TOKOH YANG BANYAK.
After eons of tearing at Himself, The Being found Himself surrounded by mass of formless immensity of separate substance. It was, however, the earliest form of the universe and the gods’ realm that envelops it.

Gaya penceritaan novel ini unik, berbeda dengan novel-novel fantasi epik yang pernah saya baca. Cerita dituturkan dengan gaya jurnal harian, atau diary, dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Menebak siapa yang bercerita membuat saya tertarik untuk membaca lebih jauh. Flash back, kisah-kisah, cerita-cerita dan berbagai informasi lainnya diselipkan dengan menarik di berbagai tempat, terkadang diantara dialog internal tokoh utama di suatu kejadian, namun penempatan yang pas membuat sisipan informasi ini bisa diterima dan melengkapi keutuhan cerita.

The Maelstorm, either by change or by It's own awareness, spat out another Being, as mighty as the First , but complete opposite: while the First are embodiment of chaos, change and darkness; this one is embodiment of order, stability and light. And so the Second attacked the First, because the polar opposite of their nature...

Jalur cerita mengalir sederhana, intrik tidak sedalam dan njelimet seperti The Wheel of Time, bahkan masih lebih sederhana dari Mistborn. Plot terjalin rapi, walau mungkin sederhana, namun penulis berhasil memberikan kejutan-kejutan di tikungan-tikungan cerita. Alur cerita diatur dengan pas, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Walau memang span waktu yang digunakan di tiap buku agak berbeda, dimana hanya beberapa minggu di buku pertama, menjadi beberapa bulan di buku kedua dan menjadi beberapa tahun di buku ke tiga.
So they fought, and fought, and fought times a few million jillion nillion, until suddenly one or the other of them got tired of the whole thing and proposed a truce. And then they became lovers. Somewhere between all this — the fighting or the lovemaking, not so very different for those two — they had a powerful effect on the shapeless mass of substance that the first had given birth to. It gained more function, more structure. And all was well for another Really Long Time.

Penokohan terbangun bagus, karakterisasi jelas dan cukup dalam. Tiap tokoh memiliki kharakter yang khas, dan dapat dengan mudah dibayangkan. Di sini, saya menjumpai penokohan lebih lengkap, lebih manusiawi dibandingkan dengan penokohan Brandon Sanderson, yang lebih menjurus ke hitam-putih. Penokohan N. K. Jemisin terasa lebih lengkap, lebih hidup.

Then along came the Third, a she-being, who should have settled things because usually three of anything is better, more stable, than two. For a while this was the case. In fact, EXISTENCE became the universe, and the Beings soon became a family, because it was the Third’s nature to give meaning to anything She touched. If the First is the dark, the Second is the light, then the Third is the between, the BALANCE, neither dark nor light.
Setiap buku ditutup dengann rapih, bagus, memberikan rasa puas setelah membacanya. Tidak banyak novel yang memberikan penutup yang memuaskan, namun masih membuat orang ingin membaca kelanjutan dari buku tersebut. Kebanyakan dari seri novel adalah memberikan suatu cliff hanger, atau suatu misteri yang belum terpecahkan, atau penutup kecil dari suatu plot besar, untuk menarik pembaca ke buku berikutnya.

And so they became a family: the First, who they call Nahadoth, the Second, who they call bright Itempas, and the Third, who they call Enefa, and many child born from them: the godlings and the humans. And so the era of Gods and Humans begin. Until that day, when love, and loneliness, and betrayal destroy everything...

Yang saya temui kurang sreg adalah banyaknya dewa-dewa di buku ini, dan bagaimana setiap dewa menyerupai sifat manusia. Saya mendapat kesan dewa-dewa adalah manusia dengan keabadian dan kekuatan super. Bagaimanapun, penulis novel ini adalah manusia, jadi pantas saja jika penggambaran di novel ini masih dalam batas manusia....
And so the new era begins... An era of slavery, pain, and loneliness....

Secara keseluruhan, saya suka buku ini, walaupun beberapa hal yang terasa kurang sreg. Saya cukup menikmati membaca buku ini, gaya penceritaannya yang mengena, manis, dengan ending yang tidak dapat diduga, membuat satu paket bacaan yang menyenangkan. Kalau anda pencinta novel fantasi, dan tidak ada halangan untuk membaca kisah dengan dewa-dewa rekaan di dalamnya, saya sangan merekomendasikan seri novel ini.
Recommended!!!

Sunday, November 06, 2011

Review: Twilight's Dawn

Cover.
Daemon understand what it mean loving Jaenelle Angelline: to stand as a lover, a protector, and when she need it, as a knife ready to draw. He also understand what it mean loving Jaenelle, dream made flesh, Witch, someone who born as one of the short lived race... And after her time walk on the Realm end, how will Daemon cope with the loss of his love? Will it healed? Will he love again, when there is someone who secretly have been love him for her entire life? And when the Saetan D. SaDiablo, his loving father and the High Lord of Hell, stop drinking yarbarah, allowing his power, and his self, fade and back to the darkness, can Daemon accept the responsibility as the Heir of the High Lord of Hell? This story is a story which span decades, covering most of unresolved questions, giving some answer and closure after the event in Black Jewels Trilogy, Dream Made Flesh, and Tangled Web. And the bitter sweet ends it was...


Yup, another review. Review ini untuk memenuhi request dari teman saya Diaz yang bosan dengan review novel saya yang banyak vampirnya hahaha... Dan lagi, saya dulu pernah berjanji untuk membuat review-nya, tapi lalu kelupaan...

Kali ini yang saya bahas adalah novel berjudul Twilight's Dawn, buku (kemungkinan) terakhir dari Black Jewels Series. Kenapa (kemungkinan) terakhir? Karena setelah membaca buku ini, saya merasa pintu petualangan yang melibatkan Daemon Sadi, Lucivar Yaslana, Jaenelle Angeline, Saetan D. SaDiablo dan Surreal SaDiablo ditutup. Mungkin akan ada novel lain dalam seri Black Jewels, tapi saya rasa akan menggunakan karakter baru sebagai tokoh utama.

Novel ini terdiri dari beberapa bagian, karena tujuan dari novel ini adalah memberikan penutup untuk Black Jewels Trilogy, penutup untuk memuaskan fans trilogi novel tersebut yang penasaran dengan apa yang terjadi pada tokoh-tokoh yang terlibat. Ada empat bagian: Winsol Gifts, Shades of Honor, Family, dan The High Lord’s Daughter. Namun saya rasa yang paling ditunggu adalah bagian keempat, The High Lord's Daughter.

Gaya penceritaan masih seperti novel-novel di seri Black Jewels lainnya: detil, dalam, romantis dan gelap. Sesaat setelah membaca paragraf pertama, saya dibawa hanyut masuk ke dalam dunia Blood yang magical, romantis, dengan deskripsi yang indah. Intrik dan misteri terasa lebih sederhana, dengan bagian yang membuat gregetan tidak sedalam dan sebanyak novel sebelumnya, namun ada banyak sekali jawaban untuk berbagai pertanyaan yang muncul selama mengikuti seri Black Jewels. Dan ending di akhir novel yang manis, memberikan rasa puas setelah membaca novel ini.

Untuk anda yang telah membaca Black Jewels Trilogy dan novel-novel Black Jewels sebelumnya, novel ini patut dibaca. Anda akan diberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di pikiran anda, dan tetap menikmati petualangan ala Blood. Untuk yang belum pernah membaca seri novel Black Jewels satupun, baca dahulu novel sebelumnya. Dengan demikian, anda akan dapat menikmati penutup yang manis dan memuaskan...
Recomended! (untuk yang mengikuti seri Black Jewels)


next: Law of Alloy, novella dari Mistborn Trilogy. Terbit tanggal 8 November, review beberapa hari setelahnya. Insya Allah.

Monday, October 31, 2011

Review: House of Night Series

Kenalkan Zoey Redbird, gadis remaja biasa yang hidupnya berubah total setelah ditandai dengan tato bulan sabit biru di dahinya, tato yang menandai Zoey sebagai fledging, atau lebih tepatnya vampyre fledging dan harus memulai hidup barunya di House of Night. Di sana, Zoey harus berjuang agar bisa diterima oleh lingkungan barunya, menghadapi masa lalunya yang terus menghantuinya, saingan, cinta dan berbagai macam masalah lainnya. Hidup Zoey menjadi lebih rumit saat tirai misteri mulai terkuak, membuka kegelapan yang jauh lebih kelam, gelap dan mengerikan dibandingkan kehidupan remaja vampyre di House of Night...
Sesuai dengan janji yang saya tulis di post sebelumnya, kali ini saya akan melakukan review novel House of Night. Sedikit latar belakang, di seri novel ini, gambaran vampir (atau vampyre jika mengikuti istilah di novel) berbeda dengan vampir di novel Anita Blake: Vampire Hunter atau Twilight Saga. Vampir di novel House of Night adalah semacam sub-ras dari manusia yang hidup secara terbuka bersama-sama dengan manusia moderen. Mungkin tidak sampai level tinggal bersebelahan rumah, naik bus umum yang sama atau sebagainya, namun setidaknya mereka terbuka dengan manusia biasa, dan kehadirannya dianggap normal. Setidaknya di novel Anita Blake, vampir baru diterima secara legal di beberapa negara, di House of Night, vampir adalah legal dan umum.

Sedikit yang kurang enak menurut saya adalah bagaimana vampir digambarkan sebagai semacam klan elit yang selalu lebih baik dari manusia biasa. Mereka hidup secara eksklusif, dengan berbagai bakat dan berkah, dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang datang bersama kekayaan yang melekat erat dengan dunia vampir di dunia House of Night. Semua kemudahan dan hal-hal indah ini membuat kesan yang tidak riil, tidak nyata, karena kita semua tahu, dunia tidak seindah yang ada di dunia vampir yang digambarkan di sini. Membaca seri novel House of Night selalu memberikan kesan ke saya seperti sinetron Indonesia: dunia orang kaya, dengan berbagai hal yang terkadang tidak masuk akal. Saya pribadi lebih cocok dengan dunia vampir Anita Blake yang terasa jauh lebih nyata, dimana vampir beragam seperti manusia biasa: kaya, miskin, cantik, jelek, biasa, kurus, gemuk, dll.

Dari segi penceritaan sendiri, novel ini bagus, gambaran emosi Zoey bisa mudah dicerna, terutama karena sudut pandang yang diambil. Character development bagus, walau terkadang terkesan kurang dalam. Mungkin ini dikarenakan sudut pandang dan sasaran dari novel ini yaitu remaja sma. Saya rasa masih pantaslah jika kedalaman emosional dan karakter tidak sedalam novel yang diperuntukkan untuk usia yang lebih dewasa. Membuat saya bertanya-tanya, apakah memang remaja sekarang sedangkal itu?!? (ugh, I'm sure I wasn't that shallow!!!). Hehehehe abaikan, ini karena saya terlalu banyak membaca novel dewasa, dan karena dewasa sebelum waktunya.....
Kalau untuk remaja SMP/SMA saya rasa masih bisa dimengerti kedalaman penggalian karakter dan emosi di novel ini.

Penggalian dan pengembangan karakter kurang dalam untuk karakter yang lain. Di sini, yang paling saya rasakan karakter pengembangan yang dalam adalah di Zoey (tentu saja), lalu Stevie Rae. Nefferet digambarkan standar (spoiler allert!!! Nefferet digambarkan sebagai tokoh jahat standar saja). Damien penggambaran agak lebih dalam daripada Si Kembar. Si Kembar baru mulai tergali pada novel ke sembilan (Destined) yang dirilis 25 Oktober lalu. Bayangkan! Baru digali lebih dalam setelah novel kesembilan....(as the twin would said: Sad, twin, that's just so sad....). Lalu ada si Aphrodite yang..... standar banget (sekali lagi, silakan baca novelnya).

Di sistem magis, sosial dll dapat dengan jelas dilihat dasar Wiccan yang digunakan. Ada elemen-elemen (angin, api, air, tanah, spirit -- mirip dengan lima macam weave yang digunakan di The Wheel of Time), lalu ada gift, atau bakat yang merupakan berkah dari Nyx, Dewi yang disembah oleh para vampir. Adapula sentuhan Indian (atau lebih tepatnya American -- Native American). Sistem magisnya cukup tradisional, tapi tradisional diposisi yang berbeda dengan Harry Potter.
Banyak disisipi puisi, judul-judul buku, lalu ada satiran dari nama-nama orang terkenal (kebanyakan dijadikan vampir, memberikan kesan vampir adalah dominan di segala bidang terutama dalam bidang seni).

Intrik-intrik terjalin dengan cukup bagus, walau kadang bisa ditebak dan sederhana, sekali-lagi, seperti sinetron indonesia. Namun untunglah tidak se-obsessive-compulsive ala Twilight saga...... (kaburrrrrr).
Penjalinan jalan ceritanya oke, mengalir dengan menarik, tidak terasa saya sudah sampai di akhir buku. Penggambaran adegan juga bagus, ketegangan terbangun dengan bagus, adegan mengharukan, menjengkelkan dan sebagainya bisa dirasakan dengan jelas. Sayang makin ke belakang kok makin banyak air mata dan ....ingus. Eww...  yuck... Get a grip, or better yet, tissue paper, Zoey!!!

Secara garis besar seri novel ini sederhana, menghibur dengan cukup banyak sentuhan cool-factor yang menarik. Mungkin agak dangkal, namun masih bisa diterima. Seri novel ini bisa memberikan suasana yang berbeda dari novel vampir lain (Anita Blake, Twilight), dan membuat ciri khasnya sendiri. Reccomended.

Friday, November 12, 2010

Review: The Black Jewels Trilogy

Apa yang kamu lakukan, saat seseorang mengatakan padamu, bahwa mimpimu sudah datang? Itu lah yang dialami oleh Daemon Sadi, seorang pleasure slave di sebuah court di Terrelile. Dari situlah sebuah pintu gerbang dibuka, gerbang menuju satu dunia dimana intrik politik berpilin dengan skema-skema jahat, mimpi, ambisi, dan kekuatan. Gelap, hitam, menggetarkan, tetapi juga cantik, indah, dan bersinar. Dunia dimana Blood berkuasa, dimana Darkness dipuja dan dihormati.

The Black Jewels Trilogy mengisahkan tentang tiga dunia: Terreille, Kaeleer dan Hell, dengan sudut pandang dari Saetan D. SaDiablo, Daemon Sadi dan Lucivar Yaslana, dan bagaimana petualangan dan perjuangan yang dilalui mereka saat Witch (Jaennelle Angeline), perwujudan dari mimpi, dan harapan, semua Blood (dari segala ras) di Dark Realm. Bagaimana perjuangan mereka mendukung Witch menghadapi cemaran yang disebarkan oleh Dorothea SaDiablo, High Priestess of Hayll, dan Hekatah SaDiablo, Dark Priestess (atau juga High Priestess of Hell).

Anne Bishop, penulis trilogi ini, berhasil membangun gambaran dari dunia tempat cerita ini berlangsung dengan sangat indah, detil, dengan penokohan karakter yang bagus. Beliau berhasil membangun suatu dunia lengkap dengan sistem kastanya, dengan sistem magisnya, dan detil-detil lainnya dengan indah. Karakter-karakter utama terbangun dengan rapi, dengan karakter sampingan dibuat cukup lengkap, walaupun mungkin kurang dalam. Untuk anda pembenci magis ala Harry Potter, anda akan menemukan magis gaya lain di sini. Di dunia The Black Jewels Trilogy, craft (istilah untuk sihir di sini) adalah cara untuk menggunakan kekuatan yang di miliki oleh Blood (sebutan untuk sebagian kecil dari ras di Dark Realm yang memiliki kekuatan). Di sini tidak ada tongkat sihir, mantra-mantra sihir, hewan sihir, buku yang menggigit, sapu terbang (walau memang ADA kereta yang bisa melayang) dan sebagainya. Kekuatan yang dimiliki disimpan di dalam permata (Jewels) dengan warna (dan jumlah) dari permata menentukan seberapa dalam 'sumur' kekuatan yang dimiliki. Ada tiga belas warna permata, dari putih yang paling dangkal, hingga hitam yang paling dalam. Oh, dan ada permata bening (yang tidak mewakili taraf kekuatan) dan Ebony, permata yang dimiliki Witch.

Intrik-intrik dibuat dengan tajam, antara politik; cinta; pertemanan, aliansi hingga perseteruan. Dan bumbu erotis (oh yah, tidak ada yang lebih 'panas' selain bumbu erotis di beberapa tempat) dan 'cool moment' dan 'cool thing' dan 'oh, shit! moment' dalam jumlah yang cukup (baca: sangat) banyak. Jangan lupa adegan-adegan yang sangat romantis, atau sangat menyentuh hati, atau yang membuat gregetan.

Cerita berjalan dengan kecepatan yang berubah-ubah, terkadang cepat, terkadang lambat, terkadang santai. Anne Bishop sangat pandai meramu saat-saat cepat, dengan saat-saat lambat, yang membuat saya terkadang begitu geregetan, dan penasaran, ingin segera membaca akhir cerita. Dan di akhir cerita, dengan sukses membuat saya ketagihan dan ingin membaca lagi.
Highly Recomennded!

Monday, August 17, 2009

Review: Anita Blake: Vampire Hunter Series


Apa jadinya kalau dunia yang kita tinggali merupakan dunia dimana vampir, zombi, werewolf (manusia srigala), sihir, setan, dan sebagainya merupakan bagian dari dunia nyata? Inilah dunia tempat Anita Blake, animator sekaligus pemburu vampir tinggal. Novel Anita Blake: Vampire Hunter series karya Laurell K. Hamilton akan membawa kita jauh kedalam dunia preternatural berisi hal-hal yang selama ini hanyalah dongeng dan mitos belaka.

Secara garis besar, makhluk-makhluk dongeng yang 'hidup' di dunia Anita Blake adalah standar makhluk dongeng. Misalnya, vampir akan terbakar jika terkena sinar matahari, takut dengan benda-benda suci (seperti Injil, salib, Qur'an, dan sebagainya), dan benda-benda ini akan menyala hingga terbakar jika didekati vampir. Selain vampir, ada shapeshifter, werewolf, penyihir (witch dan wiccan), dan berbagai makhluk dongeng standar lainnya.

Mungkin dari sisi originalitas, dunia Anita Blake terdengar klise, biasa, namun Laurell K. Hamilton mampu menyulap dunia klise itu menjadi dunia Anita Blake yang solid, detil, dengan misteri dan roman yang erotis. Apa saya tadi menulis erotis? Ya, anda tidak salah baca, novel Anita Blake ini termasuk kategori novel dewasa, novel erotis malah. Tidak hanya dikarenakan banyaknya adegan dewasa bertebaran di mana-mana, tetapi juga gaya bahasa dan gambaran yang tidak untuk kalangan dibawah 20 tahun seperti misalnya deskripsi kondisi tubuh korban pembunuhan yang tercerai-berai dan sebagainya. Juga banyak adegan kekerasan dan pemakaian bahasa kasar di novel ini.

Novel Anita Blake: Vampire Hunter ini pertama kali beredar tahun 1993 (Guilty Pleasures), dengan jeda penerbitan setiap seri adalah sekitar satu tahun. Sejak pertama kali diterbitkan, novel ini sudah mencapai 17 judul, judul terbaru adalah Skin Trade yang beredar tanggal 2 Juni lalu. Selain seri utama, novel ini juga sudah menghasilkan beberapa side story, seperti kumpulan kasus pendek Anita Blake sebagai pemburu vampir dan sebagai konsultan kepolisian, beberapa komik berdasar novel dan beberapa lainnya.

Saya pertama kali menjumpai novel ini saat sedang mencari seri novel House of Night (review akan dilakukan di masa mendatang). Iseng saya unduh (duh, dosa euy, pake jalan haram....), saya baca kemudian saya jauth cinta dengan novel ini. Kesan pertama saya saat setelah membaca novel ini adalah: detil, kelam, solid, menegangkan, tetapi mampu membuat rasa penasaran untuk melanjutkan membaca.

Gaya bahasa novel ini adalah dewasa, sesuai dengan peruntukannya, dimana kata-katanya lebih bebas, lebih vulgar. Deskripsi dilakukan dengan teliti, hingga kita bisa membayangkan setiap adegan. Cerita dibangun dengan cermat, hingga kesalahan dapat ditekan hingga minim sekali, plot berjalan dengan lancar dan solid. Detil-detil sangat dipikirkan, sehingga terbentuk dunia yang saling mendukung. Karakter dari tokoh utama terbangun dengan baik, kita dapat adengan mudah membayangkan gambaran tokoh utama bersama karakternya dengan jelas. Gaya penceritaan dari orang pertama pelaku utama semakin menguatkan pembangunan karakter dari tokoh utama. Bahkan, hampir setiap tokoh dikerjakan dengan cermat. Deskripsi fisik dan karakter dikerjakan dengan hati-hati. Begitu juga dengan detil lokasi, semua dikerjakan dengan baik.

Pengerjaan yang cermat juga kita jumpai di bagian lain novel, seperti sejarah dan timeline yang sangat akurat. Setiap makhluk preternatural dikerjakan dengan detil, seperti misalnya dunia vampir dimana terdapat high council, master vampire, master of city, dll. Dunia werewolf diluaskan di sini, dimana tidak hanya ada manusia srigala (werewolf) tapi wereanimal seperti wereleopard, wererat, werehyena, weretiger, werebear, standar hewan, hingga makhluk dongeng seperti weredragon. Dunia wereanimal inijuga digambarkan dengan detil, seperti struktur masyarakatnya, kebiasan-kebiasaannya, dll. Kita akan ditakjubkan dengan kehati-hatian Laurell K. Hamilton dalam membuat latar belakang dan kebudayaan tiap wereanimal dan makhluk preternatural.

Hubungan antar tokoh digarap dengan baik. Perkembangan dan hubungan emosi antar tokohnya tergarap dengan bagus. Ada banyak hubungan yang dibahas di sini, baik seksual, sahabat, teman, rekan kerja, hingga master-servant. Misalnya hubungan antara Anita dengan Jean-Claude (pasangan, seksual, master-servant), Anita-Richard (seksual, pasangan, servant-servant, hirarki dengan Anita sebagai Lupa dan Richard sebagai Ulfric), Anita-Micah (pasangan, seksual, hirarki dengan Anita sebagai Nimir-Ra dan Micah sebagai Nimir-Raj), Anita-Larry (rekanan, sahabat), Anita-Verronica/Ronnie (sahabat), Anita-pard (hirarki, Anita sebagai Nimir-Ra), Anita-lukoi (hirarki, Anita sebagai Lupa sekaligus Bolverk), Anita-servant (Anita sebagai master, Damian sebagai vampire servant, Nathaniel dan beberapa lainnya sebagai animal to call) dan lain-lainnya.

Yang menjadi kekurangan menurut saya adalah gaya penulisan Laurell K. Hamilton yang cenderung menggunakan kalimat-kalimat panjang. Satu paragraf bisa mencapai satu halaman buku sendiri. Untuk beberapa orang hal ini akan membosankan, dan membuat cepat lelah. Deskripsi yang sangat detil, juga mungkin akan membuat sebagian orang akan lelah dan risih, seperti adegan-adegan romantis yang bertebaran, ataupun detil kondisi korban pembunuhan, yang digambarkan sangat nyata sekali. Belum lagi untuk orang yang tidak menyetujui free sex, akan cukup terganggu dan risih dengan novel ini. Untuk beberapa orang, mungkin bisa terbayang-bayang bagaimana organ-organ tubuh korban pembunuhan berserakan, darah yang menggenang, aroma darah dan organ tubuh, potongan-potongan daging dan sebagainya.

Selain itu, tiap novel memiliki kualitas yang berbeda. Memang hal ini sudah biasa, namun kita kan menjumpai satu novel lebih menarik dibanding novel yang lain. Dan menurut saya pribadi, Laurell K Hamilton seperti terlalu mengekspos adegan erotis di novel ini. Terlalu banyak adegan dewasa, hingga saya menjumpai hal tersebut mengganggu.

Dari sisi timeline, novel ini berjalan sangat cepat. Bahkan timeline satu novel bisa hanya berjarak beberapa jam saja dari novel sebelumnya. Jarak terpanjang timeline antar novel yang saya ingat adalah sekitar 6-8 bulan. Untuk saya, itu cukup mengganggu, sebab perkembangan tokoh menjadi terlalu cepat. Orang akan berpikir ulang, apakah ada orang yang sanggup bertahan tetap waras dengan berbagai kejadian yang datang bertubi-tubi.

Yang juga cukup mengganggu adalah perkembangan kekuatan supranatural yang dimiliki tokoh utama yang terlalu cepat, tanpa pemberian waktu yang cukup 'normal'. Sehingga memberi kesan tokoh utama mampu dengan sangat cepat menguasai kemampuan baru yang muncul. Dari hanya sekedar membangkitkan mayat (animator di novel ini adalah pekerjaan membangkitkan mayat menjadi zombi), berkembang ke necromancer (orang dengan kekuasaan terhadap segala macam undead termasuk vampir), human lupa, Nimir Ra, hingga ke living vampire. Silakan baca wikipedia bagian ini untuk lebih jelas berbagai istilah di novel ini.

Secara garis besar, novel Anita Blake ini menarik untuk diikuti. Asalkan anda sanggup bertahan saat adegan dewasa dan deskripsi mengerikan korban-korban pembunuhan, jalan cerita dan intrik di novel ini menarik untuk diikuti. Sayang, kemungkinan novel ini untuk diterbitkan di Indonesia adalah mendekati nol, karena adegan-adegan dewasa yang banyak bertebarna di novel ini.