Showing posts with label Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Tradisional. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

When the heaven shines with stars...


As Javanese descend, with Gran who love Javanese song (and Javanese poetry, myth, and poetry), my childhood days filled with song's from Waldjinah, Endang Sukoco, Gesang, and other singers and gamelan groups which name I never knew. And now, eighteen years later, any hints of classic java songs always fill me with nostalgic feelings. Of hot days spent under jambu air (Syzygium samarangense) listening to radio and the wind rustled, with chickens clucked and peeped in the background.

One of those song is "Yen ing Tawang ono Lintang"? Have you heard it? No? Hurry and search in Youtube. The Waldjinah version is a classic, while Mayangsari version bring hint's of modern touch. And if you feeling adventurous, try Ramaaipama version, which, let say, quite interesting.

I love how melancholy and romantic the lyric is. It goes like this:

Yen ing tawang ono lintang, cah ayu
Aku ngenteni tekamu
Marang mego ing angkoso, nimas
Sun takokke pawartamu

(*)
Janji-janji aku eling, cah ayu
Sumedhot rasaning ati
Lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas
Tresnaku sundhul wiyati

Dek semono, janjiku disekseni
Mego kartiko, kairing roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang, cah ayu
Rungokno tangis ing ati
Binarung swaraning ratri, nimas
Ngenteni mbulan ndadari

(Repeat *)

And for you English speaker, here the translation (+):
When the heaven shines with the stars, (1) pretty girl
I'm waiting for your presence
To the clouds above the sky, milady
I ask your whereabouts


(*)
All those promises I do remember, pretty girl
Pounding inside my heart
All those stars are mocking (me), milady
(Because) My love touching the heaven

At those times, my promises were witnessed by
All the clouds above, accompanying (my feeling of) love and tenderness


When the heaven shines with the stars, pretty girl
Listen the cries of this heart
Within the sound of the night, milady

Waiting for full moon to shine

(Repeat *)

Beautiful isn't?
Most people think this song is about the singer / composer yearning for his lovers. But, you know what, actually this song is about how the composer waiting for the birth of her daughter! Yep. Her daughter. Who is not born yet. Talk about dramatic.

Most singers made little change here and there, transforming this song into lover song. And that version is the most popular. Love sells after all.

Still, this song is a classic. I love Waldjinah and Mayangsari version. Same song but bring different atmosphere. However, Waldjinah version is still the best. I just love her angelic voice. It soar effortlessly above gamelan. So clean, so powerful. Beautiful.

Try it, maybe you like it. If you by any chance stumble upon CD containing this song, especially the audiophile version, just buy it. You won't regret it.

-------------------------------
(+):  Of course, it's not direct translation, because it always hard to capture how one language express something to other language, but I guess that translation is as close as it could be.
(1): actual translation is "when in the sky there are stars," / "when in the sky the stars are seen" but the Javanese language used is the flowery form, so I chose to romanticizing it a bit.

Saturday, December 31, 2011

Target 2012

Orang sedang ribut membuat resolusi di 2012, jadi saya nggak mau kalah ah. Tapi karena saya nggak secanggih orang-orang, jadi saya namai saja Target 2012 hihihihi

Jadi saya di tahun 2012 ini kepingin.... hmmm apa yah?! Hehehehe saya ini bukan tipe yang membuat rencana, apalagi yang sampai detil ke pernik-perniknya. Saya orang yang go with the flow: hanyut di sungai gara-gara ga bisa berenang.... Eh, bukan ding, maksud saya, tipe yang santai mengikuti keadaan. Walau emang bener saya nggak bisa berenang dan pasti hanyut kalau diceburin ke sungai....

Nggak kok, walau saya tipe yang easy going (gampang didorong kiri kanan soalnya kurus). Saya tetap punya rancangan masa depan. Jadi apakah itu? Mari kita lihat...

Di tahun 2012 ini saya ingin memantabkan posisi saya di pekerjaan saya, kalau bisa mendapat kenaikan gaji (amin ya Allah). Lalu mempersiapkan masa depan dengan investasi (kemakan rayuan mas-mas di bank).

Pacar? Pacar?
Engggg... nggak dulu deh, walau nggak nolak juga kalau dikasih sama Yang Di Atas..... (ngarep.com).

Semoga bisa makin berbakti ke Allah dan orang tua....

Lalu, pengen gadget baru! Muehehehehe (tetep). Saya ingin open headphone fullsize untuk dipakai di rumah. Sekarang ini sedang mencari informasi beberapa tipe (picky at the best: gampang diusilin karena polos, jujur, baik hati dan tidak sombong.... eit, ga boleh protes! Orang ini blog, blog saya weeek).
Lalu Sandisk Sansa Fuze+ atau Samsung YP-M1 untuk menggantikan Sandisk Sansa Clip saya yang sudah butut. Lalu ebook reader: saya ngiler saat membaca iRiver Cover Story yang di jual di sebuah toko buku....

Tablet? Tablet?
Nggak deh, nggak minat tablet, nggak butuh....
Saya malah kepengen Sony Ericsson (Sebentar lagi jadi Sony, tanpa Ericsson) Xpria Pro.

Hiks banyak ya kepengennya saya....

Demikian target saya untuk tahun 2012, siapa tahu bisa dicontek untuk target anda di tahun 2012 hihihihi...

Bismillah...

Wednesday, November 09, 2011

Review: The Alloy of Law

Cover
 Waxillium Ladrian, a tough law enforcer of Rough, called to back to his family seat and to take over as the High Lord of House Ladrian. Still haunted by the memory of a dead woman, he forced to take a bride, which is a task more to save his House than to find someone he love. Everything get messy when he found some mysterious robbery and kidnapping, which involve some people from his past at Rough. Can he escape from the past, and the haunting memory of him killing a woman he love, disentangle the mystery, and save himself from danger that come in front of him? Wax will find life on the big city is even more rough than living on Rough, the part of the world which is said no civilization ever touched...

Review lagi. Kali ini review dari novel Mistborn. Bukan bagian dari Mistborn Trilogy, tetapi masih memiliki kaitan dan suasana yang sama. Bedanya, kali ini novel bertempat di dunia dimana Elend, Vin, dan lain-lainnya sudah menjadi bagian dari mitos dan sejarah.

Tokoh utama novel ini agak berbeda dengan novel Mistborn dan novel-novel lain pada umumnya. Biasanya novel memiliki tokoh yang masih termasuk muda, terkadang remaja. Di novel ini, tokoh utama berumur sekitar empat puluh tahun. Seorang veteran sherrif jika di dunia kita, penegak hukum. Bila dibandingkan dengan dunia Mistborn Trilogy berada, setting novel ini adalah beberapa ratus tahun setelahnya, dan jika dibandingkan dengan dunia kita, saya menebak kira-kira abad pertengahan dimana listrik mulai menyebar, dengan sentuhan western cowboy. Saya menjumpai gaya penulisan dan penceritaan lebih segar dengan suasana yang lebih ringan bila dibandingkan dengan Mistborn Trilogy.

Detil penceritaan tetap khas Brandon Sanderson: detil, jelas, mengalir. Membaca novel ini sama sekali tidak membosankan. Aksi, intrik dan cerita dibangun dengan mengalir, membuat saya tanpa terasa sudah menghabiskan novel ini dalam waktu setengah hari. Faktor keren berupa alloymancy, ferruchemy dan hemalurgy tetap dihadirkan, bahkan dikembangkan lebih luas lagi. Ada tambahan Twinborn, orang dengan alloymancy (misting) dan ferruchemy. Faktor ini membuat cerita dan adegan perkelahian lebih kompleks, dan lebih menegangkan. Dan seru tentunya.

Brandon Sanderson berhasil membuat satu dunia baru yang lebih moderen, namun masih memiliki hubungan dengan dunia Mistborn Trilogy yang menjadi basis dunia moderen ini. Saya bisa dengan mudah membayangkan dunia novel ini sebagai versi moderen dari dunia Mistborn Trilogy. Bagus sekali, membuat saya merasa cepat akrab dengan dunia baru ini.

Masih ada beberapa istilah yang baru untuk saya, dan belum ada penjelasan di buku ini. Mungkin Brandon Sanderson berencana untuk membuat seri baru setelah buku ini. Saya yakin penjelasan istilah dan hal-hal yang ada di buku ini akan diberikan di buku selanjutnya. Untuk sementara ini akan saya simpan hal-hal yang masih belum jelas untuk buku berikutnya...

Secara keseluruhan, novel ini sangat bagus. Kalau anda suka novel dengan aksi di dalamnya, dengan sentuhan western gunslinger, dengan sentuhan humor dan sedikit roman, saya sangat merekomendasikan buku ini. Saya sendiri merasa novel ini memberikan gaya yang fresh setelah novel House of Night. Jika novel House of Night sangat magical, feminim dan emosional, maka novel ini adalah novel maskulin dengan banyak aksi.
RECOMMENDED!!! (very, very recommended indeed!)

Sebuah Pembelaan Diri (?)

Ehm, kali ini saya tidak sedang ingin menulis review. Kali ini saya ingin curhat hehehe...
Seorang teman saya sempat bertanya kepada saya, mengapa novel-novel yang saya review semuanya adalah novel berbahasa Inggris, atau novel versi bahasa Inggris. Beliau mengeluh kepada saya, bahwa kemampuan bahasa Inggris beliau agak pas-pasan untuk membaca novel berbahasa Inggris. Ada pula teman yang sembari becanda, menuduh saya kalau saya membaca novel berbahasa Inggris biar terlihat keren....

Jadi, mengapa saya membaca novel berbahasa Inggris? Pada awalnya, membaca buku (tidak hanya novel) dalam bahasa Inggris adalah untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya. Bulik saya yang seorang guru bahasa Inggris bilang kepada saya bahwa jika saya ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya, maka saya harus sering berlatih: berbicara dalam bahasa Inggris, menulis dalam bahasa Inggris, mendengarkan bahasa Inggris dan membaca bahasa Inggris.

Saya suka musik, saya suka menyanyi, saya suka membaca. Saya berpikir, kenapa tidak menggunakan ketiga kesukaan saya untuk meningkatkan kemampuan saya berbahasa Inggris?! Akhirnya saya berlatih bahasa Inggris dengan mendengarkan musik berbahasa Inggris dan membaca dalam bahasa Inggris. Menulis dalam bahasa Inggris di tiap kesempatan, jika memungkinkan. Sayangnya saya belum cukup percaya diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris....

Memangnya efektif? Kalau saya secara pribadi berani bilang efektif. Tapi mungkin cara saya cukup berhasil karena saya SUKA melakukannya. Jadi saya cukup menikmati proses belajar saya. Di sisi lain, karena saya hampir tidak pernah berbicara dalam bahasa Inggris, ya skill saya dalam speaking bisa dibilang jelek. Dan saya paling pusing jika diajak bicara grammar, makanya nilai TOEFL bagian grammar saya jeblok hehehe...

Kembali ke kenapa saya selalu me-review buku berbahasa Inggris. Awalnya saya membaca buku, komik, novel dll dalam bahasa Indonesia, seperti remaja biasanya. Lalu saya berkenalan dengan novel Harry Potter, saya masih ingat saat itu saya diberi pinjam oleh teman saya saat kelas 3 SMP, buku seri ketiga dari Harry Potter. Saat SMA, saya bertemu dengan versi asli dari novel klasik Jules Verne 'Perjalanan Menuju Pusat Bumi' (Journey To The Center of Earth), novel Jules Verne favorit saya, dan saya kaget karena ternyata novel aslinya memiliki gaya penceritaan dan suasana yang cukup berbeda dari versi Indonesianya. Dari situlah saya tergerak untuk mencari dan membaca versi asli novel-novel kesukaan saya.

Saya mulai mencari versi asli novel pertama dan novel yang sangat membekas di saya: 'Musin Dingin Yang Panjang' (The Long Winter) karya Laura Ingalls Wilder, yang kemudian saya ketahui merupakan satu dari rangkaian seri Little House. Dikarenakan kota asal saya adalah kota kecil di bawah batu, akses internet amat sulit dan mahal. Koneksi yang umum adalah dial-up yang harga perjamnya adalah enam ribu rupiah. Mahal untuk ukuran saya. Pencarian saya bisa dibilang gagal.

Saat kuliah di Jakarta, fasilitas yang saya nikmati berubah, internet yang dulunya saya kategorikan sebagai barang mahal, kini berubah menjadi barang kebutuhan. Dan dapat diakses dengan biaya yang jauh lebih murah. Saya menggila, melakukan pencarian novel berbahasa Inggris di dunia bawah tanah....(tolong jangan diiikuti ya). Novel demi novel saya cari versi aslinya, dan saya baca semua. Dari situlah saya ketagihan novel versi asli (bahasa Inggris).

Setelah membandingkan novel versi terjemahan bahasa Indonesia dengan versi asli bahasa Inggris, saya merasakan seberapapun kerasnya penerjemah berusaha, akan sangat sulit memindahkan gaya penceritaan penulis ke bahasa lain. Kemudian suasana novel asli yang sama sulitnya untuk dipindahkan ke gaya bahasa lain, pasti akan ada perubahan. Ada juga aspek-aspek bahasa dan adat-istiadat atau aturan dan norma-norma yang kurang pas jika diterjemahkan. Belum lagi istilah-istilah yang seringkali menjadi terdengar aneh, asing, atau panjang. Semakin kompleks dan dalam suatu novel, semakin sulit novel tersebut untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Dan perubahan-perubahan ini saya rasakan sebagai mengganggu dan mengurangi kenikmatan membaca. Karena itulah kebanyakan saya membaca novel dalam bahasa Inggris.

Buat saya yang berimajinasi cukup kuat ini, kenikmatan membaca novel tidak hanya ada di jalan ceritanya, intrik, misteri dan aksi-aksinya saya, namun juga bagaimana setting novel tersebut, suasana yang ingin dibangun, gaya penulisan, dan detil-detil lain yang seringkali tidak terterjemahkan (uh, istilahnya benar tidak ya? Sepertinya kurang enak... saya ingin bilang untranslated) ke dalam bahasa Indonesia. Dan lagi, sedikit banyak, akan ada pengaruh dari gaya penulisan dari penerjemah yang masuk ke dalam penceritaan, sehingga saya merasa hasil terjemahan adalah kurang sesuai dengan apa yang penulis asli inginkan, kurang original.

Jadi, dengan tidak mengurangi hormat kepada pecinta novel Indonesia (saya juga pembaca novel karya penulis Indonesia lho!), kepada penerjemah yang dengan susah payah menerjemahkan novel ke bahasa Indonesia, kepada pihak penerbit novel bahasa Indonesia, saya menemukan saya lebih menikmati novel dalam bahasa aslinya (bahasa Inggris) dikarenakan membaca novel dalam bahasa aslinya membuat saya bisa tahu suatu novel sesuai dengan gaya penulis aslinya.

Sekian sedikit curhat saya, semoga saya tidak menyinggung terlalu banyak orang. Saya minta maaf jika ada yang merasa kurang suka, curhat ini hanyalah saya berbagi pendapat saya. Jika ada yang tidak setuju, silakan saja. Terima kasih.

..............................................................................................

Finished reading Brandonn Sanderson's newest novel: The Alloy of Law today. Expect the review several days ahead... And my new Fioo E10 DAC suppossed to come tomorrow (Nov, 10) so expect the review after I spent time burning and listening to it.

Sunday, April 10, 2011

Be Thankful

Be thankful of what you have right now. Please remember, not all people have anything you have right now. Some people have less than you, some people even doesn't even have anything.
Be thankful of what you have, because God always capable of taking it back from you, and when He did it, you can only regret it later.
Be thankful for what you have right now, because we don't know if we still have it tomorrow. Be thankful, by giving other less fortunate people their share from what you have.
Be thankful, because He loved thankful servant, for we are nothing but small insignificant creature.
Be thankful to God, when He gave you anything, either you want it, or not.
Be thankful, and you will enjoy your life. Don't look up too ofter or too high, because it could make you forget to thankful to God.
Be thankful, before its too late...


Thank You, God, for all You've gave me. Please forgive me when I'm not thankful enough. Please forgive me when I'm being un-thankful bastard. And please forgive me for all sins done by me, my family, my beloved, and my friends. Thank You.


.....a little note to myself.....

Tuesday, September 22, 2009

Bekelan yuk??

Iseng melihat ponakan membongkar mainan, saya bertemu dengan permainan yang saya kira sudah punah: bekelan, atau yang dikenal juga dengan bola bekel. Benar-benar mengingatkan masa lalu....

Permainan bekelan (bola bekel), terdiri dari satu bola, dengan biji yang disebut bekel berjumlah lima, tujuh, atau dua belas. Bekel terbuat dari timah atau kuningan. Bekel dari timah lebih berat dari kuningan. Bentuknya seperti koma yang terdiri dari dua lempengan dengan penghubung diantaranya. Satu sisi umumnya polos dan satu sisi lain ditandai, dengan spidol, atau dengan torehan kecil untuk menandai posisi KLAT dan S. Di bekel yang saya lihat ini, kedua sisi masih belum diberi tanda, sehingga sulit untuk menentukan mana posisi KLAT, mana posisi S.


Cara memainkannya sederhana, pemain (dua atau lebih) bergantian memantulkan bola, dan mengambil dan atau mengganti posisi bekel. Bola harus ditangkap setelah memantul satu kali, tidak boleh lebih. Bekel yang sudah diambil tidak boleh jatuh, dan bekel yang diganti posisinya tidak boleh berubah.

Tahap permainan (nggah dalam bahasa jawa) ada enam, dengan lima cara pengambilan. Bekel diatur, kemudian diambil satu-persatu. Kemudian diambil dua-dua, kemudian tiga, empat, dan terakhir lima secara bersamaan.

  1. Nggah kecik: bekel diambil begitu saja, tanpa memperdulikan posisinya.
  2. Nggah PET (E seperti E pertama pada kata pete): bekel diposisikan pada punggungnya.

  3. Nggah ROH: bekel diposisikan pada perutnya

  4. Nggah KLAT: bekel ditidurkan, dengan sisi tak bertanda berada di atas

  5. Nggah S: seperti KLAT, tapi sisi bertanda di sisi atas

  6. Nggah NAS: tahap terakhir, jika lolos mendapat nilai satu. Dilakukan dengan mengulang semua nggah yang sudah dilalui, tanpa boleh mati sekalipun. Nggah diulang dari kecik hingga S, kemudian mundur dari S hingga kecik.
Bola bekel datang dengan berbagai ukuran, motif, warna, dan tinggat kekenyalan. Yang dicari adalah bola yang simetris, cetakannya rapi, dengan kekenyalan yang cukup sehingga pantulannya cukup tinggi. Ukurannya juga dicari yang mudah digenggam.

Bekel dicari yang seimbang, sisi kiri dan kanan sama tingginya, sehingga memperkecil kemungkinan bekel jatuh setelah diubah ke posisi PET ataupun ROH. Terkadang dicari juga yang agak susah berdiri di bagian kepala untuk menghindari "TOGOK". Jika bekel TOGOK sendiri, dalam artian berdiri sendiri tanpa ada yang mengganjal, maka pemain akan berakhir gilirannya (mati). Jika bekel TOGOK NYANDAR (togok bersandar), maka pemain diberi kesempatan satu kali untuk menjatuhkan togok tersebut dengan menjatuhkan bola ke arah togok tersebut. Jika togok jatuh, maka pemain dapat melanjutkan permainan, namun jika togok tetap berdiri, maka gilirannya berakhir.

Permainan ini sangat menyenangkan, untuk menghabiskan waktu. Paling gampang dimainkan di lantai yang rata, bersih, sehingga pantulan bola mudah diprediksi. Permainan ini melatih kecermatan, ketangkasan, kecepatan, dan perhitungan. Namun sayangnya permainan ini, seperti permainan tradisional lainnya, sudah tenggelam dihempas permainan moderen. Siapa sih yang tidak kenal permainan ketangkasan semacam PS, Xbox, Nintendo Wii? Padahal permainan ini tidak kalah dalam melatih ketangkasan.

Jadi, bekelan yuk?!?
Blogged with the Flock Browser