Orang sedang ribut membuat resolusi di 2012, jadi saya nggak mau kalah ah. Tapi karena saya nggak secanggih orang-orang, jadi saya namai saja Target 2012 hihihihi
Jadi saya di tahun 2012 ini kepingin.... hmmm apa yah?! Hehehehe saya ini bukan tipe yang membuat rencana, apalagi yang sampai detil ke pernik-perniknya. Saya orang yang go with the flow: hanyut di sungai gara-gara ga bisa berenang....
Eh, bukan ding, maksud saya, tipe yang santai mengikuti keadaan. Walau emang bener saya nggak bisa berenang dan pasti hanyut kalau diceburin ke sungai....
Nggak kok, walau saya tipe yang easy going (gampang didorong kiri kanan soalnya kurus). Saya tetap punya rancangan masa depan. Jadi apakah itu? Mari kita lihat...
Di tahun 2012 ini saya ingin memantabkan posisi saya di pekerjaan saya, kalau bisa mendapat kenaikan gaji (amin ya Allah). Lalu mempersiapkan masa depan dengan investasi (kemakan rayuan mas-mas di bank).
Pacar? Pacar?
Engggg... nggak dulu deh, walau nggak nolak juga kalau dikasih sama Yang Di Atas..... (ngarep.com).
Semoga bisa makin berbakti ke Allah dan orang tua....
Lalu, pengen gadget baru! Muehehehehe (tetep). Saya ingin open headphone fullsize untuk dipakai di rumah. Sekarang ini sedang mencari informasi beberapa tipe (picky at the best: gampang diusilin karena polos, jujur, baik hati dan tidak sombong.... eit, ga boleh protes! Orang ini blog, blog saya weeek).
Lalu Sandisk Sansa Fuze+ atau Samsung YP-M1 untuk menggantikan Sandisk Sansa Clip saya yang sudah butut. Lalu ebook reader: saya ngiler saat membaca iRiver Cover Story yang di jual di sebuah toko buku....
Tablet? Tablet?
Nggak deh, nggak minat tablet, nggak butuh.... Saya malah kepengen Sony Ericsson (Sebentar lagi jadi Sony, tanpa Ericsson) Xpria Pro.
Hiks banyak ya kepengennya saya....
Demikian target saya untuk tahun 2012, siapa tahu bisa dicontek untuk target anda di tahun 2012 hihihihi...
Bismillah...
Saturday, December 31, 2011
Target 2012
Sunday, November 06, 2011
Review: Twilight's Dawn
![]() |
| Cover. |
Daemon understand what it mean loving Jaenelle Angelline: to stand as a lover, a protector, and when she need it, as a knife ready to draw. He also understand what it mean loving Jaenelle, dream made flesh, Witch, someone who born as one of the short lived race... And after her time walk on the Realm end, how will Daemon cope with the loss of his love? Will it healed? Will he love again, when there is someone who secretly have been love him for her entire life? And when the Saetan D. SaDiablo, his loving father and the High Lord of Hell, stop drinking yarbarah, allowing his power, and his self, fade and back to the darkness, can Daemon accept the responsibility as the Heir of the High Lord of Hell? This story is a story which span decades, covering most of unresolved questions, giving some answer and closure after the event in Black Jewels Trilogy, Dream Made Flesh, and Tangled Web. And the bitter sweet ends it was...
Yup, another review. Review ini untuk memenuhi request dari teman saya Diaz yang bosan dengan review novel saya yang banyak vampirnya hahaha... Dan lagi, saya dulu pernah berjanji untuk membuat review-nya, tapi lalu kelupaan...
Kali ini yang saya bahas adalah novel berjudul Twilight's Dawn, buku (kemungkinan) terakhir dari Black Jewels Series. Kenapa (kemungkinan) terakhir? Karena setelah membaca buku ini, saya merasa pintu petualangan yang melibatkan Daemon Sadi, Lucivar Yaslana, Jaenelle Angeline, Saetan D. SaDiablo dan Surreal SaDiablo ditutup. Mungkin akan ada novel lain dalam seri Black Jewels, tapi saya rasa akan menggunakan karakter baru sebagai tokoh utama.
Novel ini terdiri dari beberapa bagian, karena tujuan dari novel ini adalah memberikan penutup untuk Black Jewels Trilogy, penutup untuk memuaskan fans trilogi novel tersebut yang penasaran dengan apa yang terjadi pada tokoh-tokoh yang terlibat. Ada empat bagian: Winsol Gifts, Shades of Honor, Family, dan The High Lord’s Daughter. Namun saya rasa yang paling ditunggu adalah bagian keempat, The High Lord's Daughter.
Gaya penceritaan masih seperti novel-novel di seri Black Jewels lainnya: detil, dalam, romantis dan gelap. Sesaat setelah membaca paragraf pertama, saya dibawa hanyut masuk ke dalam dunia Blood yang magical, romantis, dengan deskripsi yang indah. Intrik dan misteri terasa lebih sederhana, dengan bagian yang membuat gregetan tidak sedalam dan sebanyak novel sebelumnya, namun ada banyak sekali jawaban untuk berbagai pertanyaan yang muncul selama mengikuti seri Black Jewels. Dan ending di akhir novel yang manis, memberikan rasa puas setelah membaca novel ini.
Untuk anda yang telah membaca Black Jewels Trilogy dan novel-novel Black Jewels sebelumnya, novel ini patut dibaca. Anda akan diberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di pikiran anda, dan tetap menikmati petualangan ala Blood. Untuk yang belum pernah membaca seri novel Black Jewels satupun, baca dahulu novel sebelumnya. Dengan demikian, anda akan dapat menikmati penutup yang manis dan memuaskan...
Recomended! (untuk yang mengikuti seri Black Jewels)
next: Law of Alloy, novella dari Mistborn Trilogy. Terbit tanggal 8 November, review beberapa hari setelahnya. Insya Allah.
Thursday, August 13, 2009
Janur Kuningku
Tok! Tok! Terdengar suara pintu rumah diketuk. Hm, mungkin petugas Indosat mengantarkan surat tagihan langganan Indosat saya. Ternyata petugas Pos. Di tangannya terdapat selembar amplop tebal coklat. Saya bertanya-tanya, untuk siapakah surat yang kelihatannya resmi itu?
"Dengan.... (membaca nama di alamat surat) Panji?" tanya si Pak Pos. "Ya," jawab saya. Makin penasaran. Sebab jarang-jarang saya dapat surat resmi seperti ini. Setelah tanda tangan, langsung saya robek kertas coklat pembungkusnya. Saya jungkirkan dan, tadaaaa.... selembar kertas berwarna merah muda lembut di dalam plastik jatuh. Wangi bunga menyeruak saat saya buka plastik pembungkusnya.
Oooohhh... surat undangan.... Pikir saya. Kira-kira dari siapa yah? Langsung saya buka, di dalamnya tertulis nama salah satu teman saya, perempuan, yang seumuran dengan saya. Oh My God. Di bawahnya tertulis nama calon suaminya, nama orangtua masing-masing mempelai, tempat dan tangggal ijab kabul dilakukan. Tak lupa permohonan doa.
Saya duduk terhenyak. Saya banyak melihat orang menikah, tapi untuk saya pribadi, pernikahan merupakan satu dari sedikit hal yang (hampir) tidak pernah saya pikirkan. Bulan kemarin ada dua undangan pernikahan, satu teman kuliah, satu kakak teman dari rohis sma saya. Sebelumnya ada undangan dari teman saya yang lain, dan sebelumnya lagi, ada undangan rame-rame dari teman sma saya.
Pikiran saya melayang. Saya teringat pernikahan saudara sepupu saya bulan lalu. Saya masih ingat dengan jelas wajah kedua pengantin. Saat malam sebelum ijab-kabul, saat bulek saya menangis sedih bercampur bahagia sembari memeluk putri terbesarnya. Saya masih ingat bagaimana wajah kedua pengantin saat mengucapkan ijab kabul. Saat keduanya sungkem ke orang tua mereka, saat mereka di sandingkan berdua di pelaminan.
Ingatan saya melayang lebih jauh, mengingat saat kakak perempuan saya menikah. Bagaimana sembabnya kedua bola mata bawang sebungkul-nya, bentuk bola mata yang juga saya warisi, bagaimana air mata bahagia dan sedih, mengalir membasahi pipi kakak dan ibu saya. Saya teringat bagaimana wajah kakak perempuan saya saat ijab kabul, bagaimana wajahnya bersinar seperti matahari bersinar di pagi hari. Begitu terang, begitu jernih, begitu segar. Saya teringat bagaimana suasana ijab kabul, keheningannya, kesyahduannya. Dan saat kakak ipar saya mengucapkan janjinya, suaranya begitu tenang, yakin. Suasananya begitu syahdu, seperti seribu malaikat turun mengelilingi mereka berdua. Dan saat doa dibacakan, telinga saya mendengar ringing jernih, seolah malaikat ikut mendoakan. Dan saat kakak saya mencium tangan suaminya, saya baru sadar, kakak saya bukan milik saya lagi, ia sekarang milik suaminya, milik keluarganya. Dan saat kakak saya menoleh ke arah saya, saya hanya bisa tersenyum. Bibir saya bergetar saat mengucapkan selamat. Dan saat kakak saya memeluk saya erat, air mata saya meleleh pelan. Oh Tuhan...
Saya duduk dengan undangan di tangan saya. Saya jadi memikirkan pernikahan. Dan saya memikirkan hal-hal lain di hidup saya. Sudahkan saya sanggup menjadi pemimpin untuk keluarga saya nantinya? Sudahkah saya siap menjadi imam bagi istri dan anak saya kelak?
Dan berbagai hal muncul ke permukaan, saling berkejaran. Berbagai kekhawatiran, berbagai harapan, timbul dan tenggelam seperti ombak di samudra.
Ya Tuhan, saya tidak pernah berpikir sama sekali untuk menikah. Hidup yang selama ini saya jalani sama sekali tidak mendukung untuk munculnya perasaan ingin menikah. Saya teringat perbincangan saya dengan salah satu teman sma saya, perempuan juga. Dan saya jadi teringat bahwa dia akan menikah bulan september tahun ini, bulan depan. Saya jadi lemas.
Saya ingat tentang hadis yang mengatakan, menikah melengkapi setengah din. Bahwa menikah merupakan salah satu jalan ke surga. Bahkan sya ingat candaan salah satu pegawai ANTAM tempat saya kerja praktek dulu, "Pak, jangan sampai kita masuk jurang ya! Kalau kita-kita yang tua ini mungkin tidak apa-apa, tapi yang muda-muda ini belum sempat merasakan surga dunia, jangan diantar ke surga akhirat dulu!". Surga dunia. Saya dan dua teman saya saat itu hanya tertawa. Saya ingat bagaimana guru agama smp saya dulu berkata, menikah itu membuka gerbang pahala lebih luas lagi, karena berbuat baik ke istri adalah berpahala. "Saat kita melihat istri kita, lalu tersenyum, itu juga bernilai pahala!" kata Beliau saat itu.
Yang jadi pertanyaan saya, apakah saya sudah siap untuk menikah? Saya tidak tahu. Tapi saat menilik hidup yang sudah saya jalani, baik yang "terang" maupun yang "gelap" (don't ask, you really really doesn't want to know), jawaban saya hanya satu: TIDAK. Ya Tuhan... Saya benar-benar berantakan. Hidup yang saya jalani benar-benar berantakan. Tanpa arah, hanya hidup untuk, hidup. Tanpa tujuan jelas. Saya benar-benar rusak, bahkan terkadang saya suka berpikir yang tidak-tidak, seperti misalnya,
Kalau saya saja tidak bisa menata hidup saya yang berantakan ini, lalu bagaimana saya akan memimpin seorang istri? Sebuah keluarga? Hell, I doesn't even know how to bring my life better. Saya tidak tahu bagaimana harus keluar dari mess yang saya buat...
Salahkah jika saya tidak ingin menikah?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terucap selamat kepada sahabat perempuan saya yang akan menikah tanggal 23 September 2009. Semoga Allah memberkati pernikahanmu.

